Sabtu, 05 Februari 2011

Pocong Ngesot, Ini Benar-Benar Indonesia!


Sore kemarin, sehabis upaya memecahkan #kode, saya memutuskan untuk menghadiri wisuda di balairung UI untuk melihat para wisudawan-wisudawati UI yang pada hari kemarin resmi melepas status mahasiswanya untuk menempuh fase kehidupan selanjutnya yaitu kehidupan pasca kampus. Sungguh,berada di antara perasaan senang dan sedih, hadir di acara wisuda selalu memiliki tempat tersendiri di hati saya. Spesial, istimewa, dan indah pada waktunya, itulah kesan yang akan selalu terukir setiap kali hadir dalam wisuda. Namun di sisi lain, wisuda juga membawa kedukaan, duka karena menyadari kemalasan yang meraja membuat proses menuju wisuda menjadi begitu berat. (Next post coming soon about graduation day)


Rupanya, Allah berkehendak lain. Sungguh tak dinyaya, saya tiba-tiba teringat bahwa sore kemarin mempunyai kewajiban untuk menuntut ilmu Allah, untuk sejenak melingkar bersama para akhwat tangguh yang magnet qolbunya tak pernah bisa ditolak. Di satu sisi, saya sungguh tidak ingin melewatkan moment--walaupun hanya sekedar mengucapkan selamat--untuk bertemu para wisudawan wabilkhusus teman-teman seperjuangan di BEM UI 2009 dan 2010, para kakak-kakak pejuang UI yang telah merelakan waktu kelulusannya tertunda. Namun di sisi lain, panggilan untuk menuntut ilmu Allah jauh lebih kuat. Ini menyoal kebutuhan bahkan bukan keinginan semata. Saya merasa butuh, dan akhirnya, saya memutuskan untuk segera meluncur menuju markas lingkar cahaya, dengan target bisa kembali lagi ke depok selepasnya (walaupun akhirnya tetap tidak bisa menyusul L )


Selama diperjalanan, di sebuah ruas jalan yang biasa saya lalui untuk menuju ke markas lingkar cahaya, saya dikejutkan oleh gambar yang terpampang di billboard besar. Agak jauh tersamar karena naik motor, setelah mendekat kemudian, barulah saya bisa dengan jelas melihat apakah sebenarnya yang tergambar pada billboard besar itu. Untungnya saya punya Tuhan yang maaf-Nya seluas langit dan bumi! “POCONG NGESOT” begitulah kiranya apa yang terpampang jelas lengkap, dengan gambar ilustrasi pocong yang sedang ngesot. Maka sontak saya memohon ampun kepada Tuhan, “Astagfirullahaladzim”, sambil ketawa geli melihat kekonyolan yang nampak jelas di pelupuk mata.


Ini benar-benar Indonesia! Sampai setan-setan pun turut kebagian rezeki karena tampangnya mejeng di billboard super gede di jalanan yang cukup strategis pula. Ini bukan lagi menyoal apa yang sekedar terpampang dalam billboard tersebut, tetapi lebih dari itu, yaitu apakah sebenarnya yang hendak disampaikan (selain promosi film itu sendiri). Untuk menjawab rasa penasaran, saya mencoba mencari tahu review Film POCONG NGESOT tersebut (sebuah kegiatan yang sebenarnya bersebrangan dengan hati nurani). Ternyata POCONG NGESOT adalah film komedi horror, yang bagi saya film ini hanya menambah daftar panjang film tidak bermutu di Indonesia. Setelah Hantu Datang Bulan, Arwah Goyang Karawang, dan lain-lain yang dari judulnya saja sudah tidak enak untuk dinikmati saat ini muncul pula POCONG NGESOT.


Aneh benar-benar aneh. Notabene, film ini merupakan film komedi horror yang mungkin saja tujuannya memang dimaksudkan untuk “memplesetkan” sosok pocong dari apa yang telah tergambar di kepala orang Indonesia sehingga tujuan untuk menghibur tercapai. Tapi sayangnya, hal tersebut bagi saya justru benar-benar terlihat tolol, membodohi, dan membuat geli. Pocong yang telah terekam lekat di pikiran orang Indonesia sebagai hantu yang berjalan loncat, di film ini justru digambarkan dengan berjalan ngesot. Sungguh, harus berapa kali lagi perut saya sakit karena tertawa geli setiap mengingat kebodohan ini.


Untuk tujuan komersialisasi, film POCONG NGESOT mungkin saja bisa menutup balik ongkos produksi ditambah dengan keuntungan yang telah ditargetkan. Namun sekali lagi, hidup tidak hanya melulu tentang tujuan komersial (urusan uang), tapi ada kewajiban yang lebih luhur, diantaranya adalah kewajiban moral untuk memberikan pengajaran atas apa yang akan disampaikan kepada khalayak. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya hal ini, terlebih kebutuhan akan hiburan sangat tinggi, sehingga menjadikan film-film horror masih menjadi pangsa pasar yang sangat menjanjikan bagi rumah produksi.


Menjadi kewajiban bersama bagi kita sebagai konsumen untuk pintar-pintar memilih tontonan yang berkualitas, tidak sekedar menghibur, tetapi juga yang bisa memberikan kita banyak pelajaran. Dan yang harus menjadi perhatian serius bagi para insan perfilman adalah untuk tidak sekedar membungkus hasil karya mereka, tetapi juga mengisinya dengan sebenar-benarnya isi, tidak membohongi juga tidak menutupi. Sekali lagi, hukum penawaran permintaan berlaku di sini, selama kebutuhan atau permintaan atas film-film horror di masyarakat masih tinggi, tentunya rumah produksi dengan senang hati pasti akan memenuhinya.

Jumat, 04 Februari 2011

Membangun Pertahanan, Memecahkan Kode


Sebenarnya, di saat-saat seperti ini, sama sekali tidak ada alasan bagi saya untuk berada dalam kondisi yang tidak stabil kecuali untuk sebuah #kode. Karena bagi saya, tidak ada yang paling patut untuk dikhawatirkan kecuali #kode tersebut. Sedemikian mengkhawatirkan, sehingga setiap tahap yang saya lalui untuk dapat memecahkan #kode tersebut akan menjadi episode pembelajaran hidup yang sangat berarti, walaupun sampai sekarang saya belum mendapatkan rasa mengapa #kode tersebut penting untuk dipecahkan.


Dalam daya, upaya, dan seluruh pemikiran yang tercurah dalam usaha untuk memecahkan #kode tersebut. Belakangan ini ada sedikit #simbol yang mengganggu saya. Entah simbol aneh macam apa lagi yang mampir di otak saya dan mengganggu pola serangan saya dalam memecahkan #kode. Kalau kali ini saya mengibaratkan #kode tersebut dalam permainan bola yang harus di-goal-kan, mungkin saya butuh Firman Utina untuk membangun pola serangan dari tengah. Sedikit umpang lambung panjang langsung ke depan, atau sekedar umpan yang dilepas ke sayap kanan atau kiri, untuk kemudian dilanjutkan kembali kepada saya yang kali ini bertindak sebagai striker. Pola serangan yang harus dibangun dengan seksama dan hati-hati, sepertinya mutlak diperlukan untuk melepaskan kebuntuan serangan dalam usaha memecahkan #kode.


Sayangnya, #simbol tersebut nampaknya terlalu kuat dan agresif untuk menghadang setiap pola serangan yang telah diupayakan dalam rangka memecahkan #kode. #simbol ini bak cahaya laser yang menyorot pola-pola serangan yang telah dibangun dari dalam hati. Sedikit banyak dia agak melemahkan sendi-sendi penyerangan yang sangat vital, dan mampu melumpuhkan di beberapa titik serang. Dan mungkin pada suatu ketika, dalam keadaan terburuk, serangan akan mati sama sekali.


Maka kali ini, tidak ada yang lebih penting lagi kecuali untuk memperkuat pola pertahanan. Karena tidak punya pilihan lain, saya yang anggap saja berperan sebagai striker dan sedang dalam keadaan mengejar progress dan tuntutan point, mau tak mau harus turut serta membantu dan membangun pertahanan. Tak lain, tak bukan, kali ini pola pertahanan dibangun dari logika atau cara berpikir. Melemahkan #simbol dari ingatan dalam keadaan semua hal ada #simbol tersebut di benak agaknya memang sulit, tapi memang hanya hal tersebutlah yang bisa dilakukan. Opsi membangun pertahanan dari hati selain dari logika pada saat-saat genting seperti ini tetap dimungkinkan untuk diterapkan, namun apabila tidak kuat untuk menahan serangan #simbol dikhawatirkan pertahanan akan patah.


Pertahanan juga dibangun berlandaskan atas kekuatan serangan yang dilakukan oleh kubu musuh (untuk masa-masa ini #simbol ini menjadi musuh). Semakin kuat serangan #simbol, maka harus semakin kuat pula pertahanan yang dibangun. Berbicara jujur atas nama team: hati dan pikiran, sebenarnya bagi saya sendiri #simbol ini cukup aneh untuk ditanggapi dengan terlalu serius. #simbol ini menjadi menyeramkan dan butuh pertahanan khusus dikarenakan intensitas penyerangan diam-diam yang tersamar dan terpolarisasi dengan pemikiran diri sendiri menyebabkan saya harus berkeras diri untuk membangun pertahanan sejak dini. Kali ini, tidak ada yang lebih penting untuk ditanggapi dengan serius kecuali untuk sebuah tujuan mulia yaitu memecahkan #kode. Membangun pertahanan di saat memecahkan #kode benar-benar merupakan tantangan yang sangat memacu adrenaline. J

Senin, 31 Januari 2011

Ujung Genteng, Pesona Alam Yang Menawan Hati



Sungguh, tiada daya bagi manusia yang lemah ini untuk berdiri di atas bumi Tuhan tanpa seizin-Nya.

Seringkali berdiri, seringkali duduk, seringkali terjatuh, lalu berdiri kembali, dan seringkali pula tertidur. Dan diantara siklus hidup ini, maka berkali-kali manusia mau tak mau harus bertekuk takluk kepada kebesaran Tuhan, pemilik langit dan bumi beserta seluruh isinya, Maha Menciptakan dengan segala kesempurnaan karya-Nya.


Ujung Genteng menjadi destinasi yang dipilih Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2010 sebagai tempat jalan-jalan akhir tahun (JAT) dalam rangka menutup kebersamaan selama satu tahun kepengurusan. Faktanya, JAT yang menjadi akhir dari kepengurusan ini, tidak akan pernah menjadi akhir cerita perjalanan BEM UI 2010, because We are a Never Ending Story.


Ujung Genteng merupakan daerah pesisir pantai selatan Jawa Barat yang terletak di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi dengan jarak tempuh sekitar 220 kilometer dari Ibu Kota Jakarta atau 230 kilometer dari Kota Bandung. Waktu tempuhnya sekitar enam atau tujuh jam perjalanan bermobil. Selain jalannya cukup mulus juga terdapat beberapa jalur alternatif serta sarana angkutan umum yang memadai menuju tempat tujuan. (www.ujung-genteng.info)


Berangkat dari Depok pukul 03.00 WIB, Kami sampai di Ujung Genteng sekitar pukul 12.00 WIB. Kali ini, cerita akan terpusat pada keelokan wisata di Ujung Genteng. Selama dalam perjalanan menuju Ujung Genteng, para pelancong akan menikmati indahnya pemandangan bukit-bukit yang masih asri dengan pepohonan khas perbukitan. Jalan yang berkelok dan berliku tajam membuat perjalanan tidak pernah membosankan.


Sampai disana, hamparan pantai Ujung Genteng yang indah sudah membuat mata ini terbelalak kagum. Sepanjang mata memandang, Pandai Ujung Genteng menyajikan pemandangan ombak besar dan jernih yang pecah berserak terhalang gugusan karang. Sangat indah, ditambah dengan hamparan pasir putih di pesisirnya.

Sumber: Foto Pribadi

Letak pondokan atau penginapan yang berada persis menghadap ke arah Pantai, benar-benar membuat para pelancong betah dan mudah untuk melakukan berbagai aktivitas di pantai. Namun, bagi para pelancong yang belum puas dengan keindahan pantai Ujung Genteng, bisa memilih Pantai Pangumbahan untuk tujuan selanjutnya selama berada di Ujung Genteng. Sedikit berbeda dengan Pantai Ujung Genteng, Pantai Pangumbahan menyuguhkan ombak besar yang tidak terhalang dengan gugusan karang. Ombak besar tersebut benar-benar bisa membius siapa saja yang hadir berada di Pantai Pangumbahan. Oleh karena itu, para pelancong sebaiknya berhati-hati dan waspada apabila bermain-main dengan ombak besar.

Senja di Pantai Pangumbahan

Sumber: Foto Pribadi

Pantai Pangumbahan yang berpasir lebih putih, bersih, dan halus dibanding Pantai Ujung Genteng membuat pantai ini menjadi tempat yang pas bagi Penyu untuk bertelur. Di wilayah Pantai Pangumbahan ini, terdapat tempat konservasi Penyu Hijau (Chelonia Mydas). Di tempat ini, para pelancong bisa turut serta melepas penyu ke Pantai. Bagi yang ingin melihat penyu bertelur, harus sedikit bersabar karena Penyu biasanya baru naik ke Pantai untuk bertelur sekitar pukul 22.00 malam. Dalam sekali bertelur, Penyu bisa menghasilkan sampai 70 telur.


Objek wisata lain yang harus dikunjungi oleh para pelancong adalah Curug Cikaso. Curug Cikaso merupakan Air Terjun yang sangat indah karena air dari curug ini khas berwarna hijau kebiruan bersih yang merupakan pantulan dari bebukitan hijau yang berada di sekitar Curug Cikaso. Sungai yang mengalir juga menyajikan pemandangan yang rupawan, hampir mirip seperti Green Canyon.

Curug Cikaso

Sumber: Foto Pribadi

Masih banyak objek wisata lain yang bisa dikunjungi di Ujung Genteng. Namun, karena terbatasnya waktu wisata, wisata di Ujung Genteng harus diakhiri dalam waktu dua hari saja. Jarak yang cukup jauh dan transportasi yang agak sulit membuat perjalanan wisata ke Ujung Genteng harus terencana dengan baik. Sebaiknya para pelancong menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan bagi para backpacker selama di Ujung Genteng agar memudahkan perjalanan wisatanya di Ujung Genteng.

Senin, 10 Januari 2011

"The Man Who Can't Be Moved"

"The Man Who Can't Be Moved"

The Script



Going Back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag I'm not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying, "If you see this girl can you tell her where I am?"

Some try to hand me money, they don't understand
I'm not broke I'm just a broken hearted man
I know it makes no sense but what else can I do
How can I move on when I'm still in love with you

'cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinkin maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on our corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving

Policeman says, "Son you can't stay here"
I said, "There's someone I'm waiting for if it's a day, a month, a year"
Gotta stand my ground even if it rains or snows
If she changes her mind this is the first place she will go

'cause If one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on our corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving,
I'm not moving, I'm not moving

People talk about the guy that's waiting on a girl
There are no holes in his shoes but a big hole in his world

Maybe I'll get famous as the man who can't be moved
Maybe you wont mean to but you'll see me on the news
And you'll come running to the corner
'cause you'll know it's just for you
I'm the man who can't be moved

[Chorus 2x]

Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag I'm not gonna move

Isu seputar penerapan Electronic Road Pricing


Electronic Road Pricing (ERP) merupakan “an electronic toll collection scheme adopted in Singapore to manage traffic by road pricing, and as a usage-based taxation mechanism to complement the purchase-based Certificate of Entitlement system". Sedangkan pemerintah Singapura yang telah menerapkan sistem ini mendefinisikan ERP sebagai "an electronic system of road pricing based on a pay-as-you-use principle. It is designed to be a fair system as motorists are charged when they use the road during peak hours".[1] Dengan demikian, sistem Electronic Road Pricing (ERP) merupakan sistem pungutan kemacetan yang menggunakan kartu elektronik. Sistem ini membebankan sejumlah biaya kepada pemilik kendaraan karena akan melewati suatu jalur tertentu sebab kendaraannya berpotensi menyebabkan kemacetan pada waktu tertentu.

Penerapan Electronic Road Pricing (ERP) merupakan salah satu rencana Pemprov DKI Jakarta yang diyakini dapat mengatasi masalah kemacetan di DKI Jakarta, selain itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga bisa menarik pendapatan daerah. Sehubungan dengan hal tersebut, ada dua pilihan yang berkembang terkait dengan kemana tarif ERP akan dialokasikan, apakah sebagai pajak daerah atau retribusi daerah? Apabila ditilik berdasarkan Undang-Undang No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, serta Undang-Undang No.28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) telah menyebutkan secara tersirat bahwa retribusi jalan raya bisa dipungut sehingga retribusi dari ERP bisa dimasukan ke sumber pendapatan daerah. Namun demikian, dari 30 jenis retribusi daerah dan 11 pajak daerah yang ada dalam Undang-Undang UU No.28 tahun 2009 tentang Pemungutan Pajak Daerah atau Retribusi Daerah (closed list), retribusi daerah ERP tidak termasuk di dalamnya. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta membutuhkan peraturan pemerintah (PP) tentang ERP agar pelaksanaan kebijakan tersebut memiliki payung hukum yang sah.

Apabila menjadikan tarif ERP sebagai retribusi dan akan dimasukkan ke dalam kas daerah, retribusi tersebut dapat digunakan untuk membiayai peningkatan transportasi umum dan infrastruktur jalan, termasuk jadi sumber dana pemerintah daerah untuk memperbaiki transportasi umum di daerahnya. Hal ini berhubungan dengan tujuan sistem ERP yang merupakan program pemerintah yang bersifat layanan kepada masyarakat agar terhindar dari kemacetan, sehingga akan lebih baik tarifnya masuk dalam restribusi daerah.

(1) Jalan Raya sebagai Public Goods

Barang publik (public goods) adalah barang yang tidak dapat disediakan melalui sistem pasar yaitu melalui transaksi antara penjual dan pembeli. Oleh karena itu, barang-barang publik disediakan oleh pemerintah karena sistem pasar gagal dalam menyediakan barang tersebut. Sistem pasar tidak dapat menyediakan barang tertentu karena manfaat dari adanya barang tersebut tidak hanya dirasakan secara pribadi akan tetapi dinikmati oleh banyak orang. Suatu jenis barang dinamakan barang publik, bila mengandung dua karakteristik utama, yaitu:

a. Penggunaannya tidak bersaingan (non-rivalry). Satu orang dapat meningkatkan kepuasannya dari barang ini tanpa mengurangi kepuasan orang lain yang juga menikmatinya dalam waktu bersamaan. Misalnya, jalan raya yang tidak padat lalu lintasnya, penggunaan oleh seseorang tidak akan mengurangi kenikmatan orang lain yang juga sedang memanfaatkannya pada saat bersamaan.

b. Tidak dapat diterapkan prinsip pengecualian (non-excludability). Bila barang publik sudah tersedia, maka setiap orang dapat memanfaatkannya tanpa ada pengecualian. Misalnya, dalam kasus prasarana jalan. Kecuali jalan tol, maka pemerintah tidak dapat mencegah setiap orang yang berniat menggunakan prasarana jalan yang sudah disediakan.

Karena pihak swasta tidak mau menghasilkan barang publik, maka pemerintah yang harus menghasilkannya agar kesejahteraan seluruh masyarakat dapat ditingkatkan. Sebagai contoh ketika pihak swasta memproduksi mobil, maka otomatis yang diperlukan adalah tersedianya prasarana jalan raya yang dibangun oleh pemerintah. Kalau prasyarat ini tidak dipenuhi maka kesejahteraan masyarakat pun tidak mencapai titik optimal. Pada barang publik ini, seseorang tidak bersedia untuk menghasilkannya karena adanya masalah kepemilikan.

Berdasarkan dari karakteristik barang publik tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa jalan raya yang padanya diterapkan sistem Electronic Road Pricing bukan merupakan barang publik karena dapat diterapkan prinsip pengecualian. Dengan alasan ini, maka prasarana jalan tidak lagi dipandang sebagai ‘public goods’ murni, melainkan sebagai ‘private goods’ dengan beberapa ‘externalities’

(2) Double Taxation

Pada dasarnya, pengenaan pajak berganda diartikan sebagai suatu pajak yang dikenakan dua kali terhadap suatu objek pajak yang sama. Dalam kasus ini, Pemilik kendaraan sudah membayar pajak kendaraan, sehingga secara logika, kendaraan tersebut dapat digunakan di seluruh ruas jalan tanpa harus membayar pajak tambahan. Terkait dengan hal tersebut, paling tidak ada dua alasan bagi pemerintah untuk mengenakan fiskal. Pertama, pada kondisi arus lalu lintas yang sudah jenuh (saturated), setiap kendaraan akan berpotensi menyebabkan kemacetan yang sangat merugikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, pengguna jalan pada ruas jalan tersebut harus membayar “denda” atas kemacetan yang ditimbulkannya. Kedua, dengan adanya road pricing, maka lalu lintas menjadi lancar, sehingga wajar kalau pengguna jalan harus membayar sejumlah uang sebagai imbalan atas kelancaran lalu lintas yang dinikmatinya.[2]

(3) Road Pricing versus Jalan Tol

Kebijakan road pricing merupakan salah satu upaya dari berbagai ragam cara dalam mengatasi masalah lalu lintas. Adapun yang ditekankan dari kebijakan ini adalah pembatasan lalu lintas atau traffic restraint yang dapat dilakukan pemerintah untuk membatasi jumlah atau populasi kendaraan atau pembatasan intensitas pemakaian kendaraan, khususnya kendaraan pribadi dengan tujuan menjaga ratio jumlah kendaraan dibandingkan dengan ruas jalan yang cenderung tidak berubah dari tahun ke tahun, tetapi jumlah kendaraan pribadi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Konsep road pricing tersebut adalah suatu konsep dimana pengenaan biaya secara langsung terhadap pengguna karena melewati ruas jalan tertentu. Tujuan dari penggunaan road pricing ini yaitu untuk menambah pendapatan suatu daerah (Jakarta) atau negara dan juga sebagai sarana untuk mengatur penggunaan kendaraan agar tidak terjadi kemacetan. Selain itu, tujuan dari road pricing ini adalah untuk mengurangi dampak lingkungan dengan mengurangi kemacetan dan juga untuk mendorong penggunaan kendaraan umum (massal). Road pricing berdasarkan tujuan dikelompokkan sebagai berikut:

a. Road toll (fixed rates), yaitu pengenaan biaya atas penggunaan jalan-jalan tertentu.

b. Congestion pricing (time-variable), yaitu pengenaan biaya yang didasarkan atas kepadatan lalu lintas. Jika lalu lintas padat maka biaya yang dikenakan akan tinggi namun bila kepadatannya rendah maka biaya yang dikenakan akan semakin rendah.

c. Cordon fees, yaitu pengenaan biaya atas penggunaan jalan-jalan tertentu.

d. HOV lanes, yaitu pengenaan biaya pada kendaraan yang tidak dapat menampung jumlah penumpang yang banyak.

e. Distance-based fees, yaitu biaya yang dikenakan terhadap kendaraan bergantung pada seberapa jauh kendaraan digunakan.

f. Pay As You Drive Insurance, yaitu membagi rata pembayaran berdasarkan jarak sehingga asuransi kendaraan menjadi biaya yang tidak tetap.

g. Road space rationing, yaitu pengenaan biaya atas penggunaan batas tertentu di jam-jam padat lalu lintas, misalnya berdasarkan nomor kendaraan).

Road pricing merupakan salah satu instrumen ekonomi yang sering diaplikasikan. Konsep ini telah diterapkan di 3 negara yaitu Singapura, London, dan Stockholm. Electronic Road Pricing (ERP) yang direncanakan diterapkan di Indonesia merupakan sebutan lain dari Congestion Pricing. Dengan penerapan ERP ini diharapkan dapat mengurangi perjalanan dengan kendaraan pribadi dan mengurangi perjalanan yang tidak perlu terutama pada jam-jam sibuk. Dengan begini, maka akan mengurangi konsumsi BBM atas kendaraan pribadi sehingga penurunan polusi udara juga akan terjadi.

Seperti halnya dengan jalan tol, ERP diterapkan di kawasan-kawasan tertentu. Jika pengendara pribadi melewati kawasan-kawasan tertentu tersebut akan dipungut biaya. Namun yang membedakannya adalah tata cara pembayarannya. Pada konsep ERP pembayaran sepenuhnya menggunakan stored-value card yang dilengkapi RFID seperti e-toll card sekarang ini. Namun yang berbeda adalah stored-value card ini menempel pada mobil atau kendaraan, bukan pada pemilik kendaraan. Dalam kartu ini terdapat jumlah uang serta data-data kendaraan dan pemiliknya.

Jalan tol sendiri merupakan jalan alternatif, sehingga bagi masyarakat yang memilih jalan tol, biaya yang dikeluarkan akan memberikan nilai lebih berupa penghematan dalam biaya operasi kendaraan dan waktu, kenyamanan, dan fasilitas yang lebih baik. Tujuan awal dibangunnya jalan tol adalah sebagai alternatif untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di Jakarta karena dari tahun ke tahun terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan kapasitas penggunaan kendaraan pribadi. Jalan tol dikenal pula dengan jalan bebas hambatan dengan pengguna jalan tol dibatasi pada pengendara roda 4 atau lebih yang mana ketika menggunakan fasilitas ini diwajibkan untuk membayarkan sejumlah uang/biaya kepada pengelola jalan tol. Sehingga jika kita melihat konsep public goods sebelumnya, jalan tol memenuhi sifat non-rival namun eksklusif.

(4) Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Apakah kebijakan Road Pricing dapat meningkatkat PAD? Jawabannya bisa ya atau tidak, tergantung mekanisme pemungutan dan penggunaan hasil pungutan. Apabila hasil pungutan dikategorikan sebagai pajak atau retribusi dan seluruhnya dimasukkan ke Dinas Pendapatan Daerah, untuk selanjutnya digunakan sesuai mekanisme anggaran yang ada, maka tidak bisa dipungkiri bahwa road pricing adalah salah satu sumber PAD. Namun demikian, hal ini juga dapat dilakukan apabila ada jaminan tentang komitmen anggaran yang memadai untuk perbaikan sistem transportasi, khususnya sistem angkutan umum, sehingga masyarakat dapat diyakinkan bahwa uang yang mereka bayar telah betul betul digunakan sesuai yang mereka harapkan, yaitu untuk perbaikan angkutan umum, sehingga masyarakat dapat menggunakan angkutan umum yang nyaman dan murah.

(4) Pembebanan kepada masyarakat

Sebagai sarana untuk pengendalian lalu lintas, road pricing memang dimaksudkan untuk “memaksa” pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke angkutan umum, sehingga beban lalu lintas menjadi berkurang. Oleh karena itu, road pricing harus “mahal” sehingga sebagian pengguna kendaraan pribadi “terpaksa” meninggalkan kendaraannnya dan beralih ke angkutan umum. Kalau intensitas pemakaian kendaraan pribadi (yang jumlahnya lebih 90% dari total jumlah kendaraan) ini dapat dikurangi, maka dapat diharapkan bahwa arus lalu lintas akan lebih lancar.

(5) Ekonomi biaya tinggi

Ekonomi biaya tinggi merupakan proses ekonomi di suatu daerah atau negara yang memerlukan atau mengeluarkan biaya yang lebih tinggi dari seharusnya akibat adanya pemberlakuan tarif yang lebih tinggi ataupun pungutan-pungutan liar yang seharusnya tidak ada. Dengan kata lain, menggambarkan sistem ekonomi yang mana untuk melakukan roda perekonomian dibutukan biaya yang sangat tinggi. Sejalan dengan hukum ekonomi bahwa setiap ada ekonomi biaya tinggi maka pada akhirnya ekonomi biaya tinggi tersebut akan dikompensasikan terhadap harga jual barang yang terlibat dalam proses ekonomi tersebut, baik produk yang akan diekspor maupun untuk produk-produk yang berbahan mentah impor maupun lokal, akibatnya output harga produknya menjadi kurang kompetitif di pasaran.

Ekonomi biaya tinggi menyebabkan suatu daerah tidak mampu bersaing dengan daerah lain dalam pembangunan ekonominya. Pelaku usaha atau bisnis pun mengeluhkan tingginya biaya yang terjadi dalam ekonomi biaya tinggi salah satunya untuk memulai atau melakukan bisnis. Adapun praktik-praktik ekonomi biaya tinggi yaitu pungutan liar, pungutan resmi berdasarkan peraturan perpajakan dengan tarif yang relatif tinggi, pengenaan perpajakan berganda dan berlapis-lapis, dan birokrasi yang panjang.

Dengan rencana akan diterapkannya road pricing pada ruas-ruas jalan tertentu, apabila intensitas pemakaian kendaraan pribadi dapat dikurangi, yang tentunya diharapkan akan menjadikan lalu lintas lebih lancar, maka hal tersebut akan berdampak sangat positif bagi kelancaran kegiatan sosial ekonomi masyarakat, dan selain itu, kerugian-kerugian ekonomi dan finansial akibat kemacetan lalu lintas juga dapat dikurangi sehingga terhindar dari ekonomi biaya tinggi (high cost economy).

(6) Penggunaan hasil pungutan

Apabila menjadikan tarif ERP sebagai retribusi dan akan dimasukkan ke dalam kas daerah, retribusi tersebut dapat digunakan untuk membiayai peningkatan transportasi umum dan infrastruktur jalan, termasuk jadi sumber dana pemerintah daerah untuk memperbaiki transportasi umum di daerahnya. Hal ini berhubungan dengan tujuan sistem ERP yang merupakan program pemerintah yang bersifat layanan kepada masyarakat agar terhindar dari kemacetan, sehingga akan lebih baik tarifnya masuk dalam restribusi daerah.

(7) Pemindahan simpul kemacetan lalu lintas

Road pricing ini dapat diterapkan di suatu kawasan (area bases), bukan hanya pada ruas jalan tertentu, sehingga tidak terjadi pemindahan kemacetan, karena arus lalu lintas di seluruh kawasan tersebut dapat dikendalikan dengan baik. Tetapi apabila penerapan road pricing ini hanya dilakukan pada suatu ruas jalan tertentu (corridor bases), maka pemindahan kemacetan tidak bisa dihindarkan. Namun demikian, tidak berarti bahwa hal ini tidak bisa diantisipasi.

Perubahan arus lalu lintas dapat diantisipasi dengan teknik simulasi dan pemodelan, sehingga titik-titik kemacetan baru sudah dapat diantisipasi sejak dini. Dengan demikian maka pemerintah sudah dapat mengantisipasi tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengatasi pemindahan titik-titik kemacetan tersebut, misal dengan pembangunan persimpangan tidak sebidang, pelebaran jalan, dsb, dan tentu saja dengan memperbaiki dan memperluas jaringan angkutan umum, sehingga dalam jangka panjang masyarakat tidak harus tergantung lagi pada kendaraan pribadi.

(8) Mengurangi konsumsi dan penggunaan kendaraan bermotor di DKI Jakarta

Kebijakan road pricing bisa diterapkan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, sehingga berdampak positif terhadap pengurangan volume lalu lintas, yang selanjutnya akan mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas. Pemprov DKI Jakarta berhipotesa bahwa kebijakan tersebut akan dapat mengurangi pemakaian kendaraan pribadi karena untuk melewati ruas jalan tertentu, pengguna kendaraan harus membayarkan sejumlah uang yang dipotong dari electronic ticket. Di Indonesia, berdasarkan data Biro Pusat Statistik, perkembangan jumlah Kendaraan Bermotor cenderung mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dan tentu dapat diasumsikan DKI Jakarta adalah salah satu wilayah yang perkembangan jumlah Kendaraan Bermotor-nya mengalami peningkatan setiap tahun, terlebih DKI Jakarta merupakan Ibukota Negara dan pusat pemerintahan serta bisnis.

Congestion pricing (pungutan biaya kemacetan) merupakan salah satu economic instruments yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Electronic Road Pricing (ERP) merupakan salah satu sebutan untuk Congestion Pricing. Dengan congestion pricing, pengguna kendaraan pribadi akan dikenakan biaya jika mereka melewati satu area atau koridor yang macet pada periode waktu tertentu. Pengguna kendaraan pribadi, akhirnya, harus menentukan apakah akan meneruskan perjalanannya melalui area atau koridor tersebut dengan membayar sejumlah uang, mencari rute lain, mencari tujuan perjalanan lain, merubah waktu dalam melakukan perjalanan, tidak jadi melakukan perjalanan, atau berpindah menggunakan moda lain yang diijinkan untuk melewati area atau koridor tersebut.

Biaya yang dikenakan juga bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada pengguna kendaraan pribadi bahwa perjalanan mereka dengan kendaraan pribadi mempunyai kontribusi terhadap kerusakan lingkungan dan kerugian kepada masyarakat yang tidak mengunakan kendaraan pribadi. Kondisi ini seringkali tidak dipikirkan oleh masyarakat dan pengambil kebijakan. Congestion Pricing telah sukses diaplikasikan di beberapa kota seperti Singapore, Oslo, Stockholm, dan London. Dana yang terkumpul, bisa juga dijadikan sebagai salah satu sumber pembiayaan untuk mendukung beroperasinya moda transportasi yang lebih efektif, sehat, dan ramah lingkungan sepert Bus Rapid Transit, Mass Rapid Transit, dan lain-lain. Dengan terciptanya moda transportasi yang ideal tersebut diharapkan dapat mengurangi konsumsi dan penggunaan Kendaraan Bermotor di DKI Jakarta.



[2] Prasetyo Hatmodjo. Kebijakan Road Pricing Untuk Mengurangi Kemacetan Lalu Lintas. http://www.drn.go.id/index2.php?option=isi&do_pdf=1&id=15 Diunduh pada tanggal 31 Oktober 2010 Pkl.21.12

Kamis, 06 Januari 2011

Revolusioner

Rasanya sudah lama sekali tidak bersentuhan dengan dunia blog yang satu ini. Hingga berganti tahun rupanya. Lama juga ya.. hemmm. Mencoba mengawali tahun yang baru dengan segala ke-berakhiran dalam organisasi dan kegiatan kemahasiswaan di tataran kampus. Agak berat, tapi begitulah hidup. Terkadang untuk memulai sesuatu yang baru, kita harus mengakhiri sesuatu yang telah lama menjadi kebiasaan kita. Dan tahun ini, Insya Allah akan menjadi tahun yang revolusioner dengan mengambil tema "Life is an adventure" layaknya iklan Nutrilon royal 3. hehehe... Kenapa revolusioner? Karena akan banyak dobrakn-dobrakan hebat di tahun ini, Insya Allah. Mohon do'a... Semoga kita dapat lebih sukses dari tahun sebelumnya.. Amiin