Rabu, 01 Juni 2011

Mereka adalah Semangat Saya!


Wohoo…Alhamdulillahirabbil’alamiin. Segala Puji ku haturkan kepada Allah SWT atas dua hari yang luar biasa ini. Tidak terasa hampir menggenapi minggu-minggu terakhir kuliah di Universitas Indonesia dalam kesempatan indah bertemu wajah-wajah baru pejuang UI yang membawa segenap harapan untuk dirinya, keluarga, dan Indonesia kelak (Insya Allah). Dua hari yang membawa saya kembali menyadari makna perjuangan yang tulus tentu akan berbuah manis kemudian.


Empat tahun lalu, megahnya Balairung masih teringat dan terpatri erat dalam sudut-sudut kedalaman memori. Dia megah, dia hebat, dan membuat saya benar-benar tersadar bahwa Allah telah menghantarkan saya mencapai cita-cita saya masuk Universitas Indonesia. Terselip ucap syukur tak henti ditambah kekaguman bahwa ribuan orang di dalam ruang ini suatu saat pasti akan menjadi orang-orang hebat kelak. Universitas Indonesia benar-benar membawa euphoria yang memancar dan ‘kegelisahan’ tersendiri di tengah hiruk pikuknya sorak sorai komposer kenamaan Balairung UI. La La La La La La La Oh… J


Empat tahun lalu, ketika Dian Sastro dengan ayunya berhasil menggondol gelar sarjananya, maka ribuan Kamilah yang bernyanyi. Lautan jaket kuning dengan ombak manusia melengkapi pelepasan para wisudawan/wati Universitas Indonesia kala itu. Sungguh sangat prestisius sekali memakai jaket kuning kala itu. Seolah ingin menepuk bahu dan berkata: “Inilah saya, ini cita-cita saya dahulu, dan saya benar-benar telah berhasil mencapainya, jaket kuning ini buktinya”.


Ah, tapi itu empat tahun lalu. Empat tahun begitu cepat berlalu, tak terasa. Mengapa ya tidak terasa? Padahal kuliah kelas dua jam dengan dosen yang aduhai saja begitu terasa, hehehe.


Tidak bisa mengelak, dua hari ini (31 Mei dan 1 Juni) menjadi kilas balik semua cita-cita saya yang telah lama saya impikan. Walaupun bukan puncaknya, tapi saya menyadari hal tersebut juga menjadi puncak kebahagiaan selama dua hari ini.


Menjaga satu loket saat pendaftaran mahasiswa baru bukanlah tidak mudah. Mulut ‘berbusa’ menyampaikan hal sama ke setiap mahasiswa baru, tak sempat istirahat kalau antrian tidak benar-benar kosong, antrian yang super panjang, logistik yang tiba-tiba habis, atau tangan yang capai karena menulis, panas, dan segala hal lainnya yang melelahkan melengkapi ketakukan dikejar-kejar deadline skripsi. Tapi entah mengapa semua kelelahan dan ketakutan tersebut telah terbayar lunas dan sirna ketika melihat senyum mereka dan ucap tulus kata-kata hebat: “Terima kasih, Kak”. Ah, lumer sekali hati ini ketika mendengarnya. Bahwa saya sangat beryukur Allah telah mempertemuwajahkan saya dengan mereka dalam jarak yang begitu dekat. Mereka yang mungkin suatu saat akan menjadi orang-orang hebat. Mereka yang tak saya ingat satu persatu, tapi Allah telah begitu baik mengijinkan saya untuk bertemu mereka, generasi pengubah bangsa yang cerdas dan berkarakter.


Dan tiba-tiba dilanda kebingungan yang teramat untuk melanjutkan tulisan ini… Tapi yang saya pahami dan rasakan, mereka adalah semangat saya, mereka adalah semangat saya, mereka adalah semangat saya. Mereka yang akan membuat Balairung memancarkan pesona kemegahannya, mereka yang akan menguningkan Balairung dengan lautan ombak manusia, mereka yang akan menyanyikan untuk saya “Goadeamus Igitur”. Mereka adalah saya empat tahun lalu.


Terimakasih… Terimakasih saya haturkan ketiap-tiap ucap hebat terimakasih dan senyum yang tertinggal untuk saya selama dua hari ini. Kalian adalah semangat saya! Terhatur maaf yang tulus dari saya, semoga kita dipertemukan di kesempatan hebat lainnya.

3 komentar:

fajri ajah mengatakan...

nice, really really nice post :')
tapi tadinya gw kira 'mereka' tuh orang tua.., hehe

Wilis Windar Astri mengatakan...

Hehe.. Konteks bahasannya lagi beda :) Kalau buat orang tua, gak bisa nulis malah, speechless

The Living Under Sky mengatakan...

huaahh, jadi keinget waktu muda dulu.. :P