Selasa, 01 Juni 2010

Senyum

SENYUM

oleh Prof.Nugroho Notosusanto


Seorang pemuda menyusuri jalan setapak di lereng bukit dengan diantar oleh bocah berpecut berusia kira-kira lima tahun. Didadanya tergantung sebuah potret merk ‘Seica’ yang sebentar-sebentar digunakannya untuk mengabadikan pemandangan disekitarnya. Bukit itu sangat dikenalnya karena lima tahun yang lalu beberapa hari ia melewatinya. Saat itu yang tergantung didadanya adalah sebuah teropong infanteri. Bukit itu pun tidak berubah, hanya tegalan dan makam di situ. Yang mengalami perubahan besar adalah jiwa penduduknya.


Di puncak bukit di antara pohon kelapa gading terdapat sebuah makam pahlawan kebanggaan penduduk. Pemuda itu berjongkok di muka makam, menaburkan bunga dan mengheningkan cipta. Perlahan-lahan kenangan lama muncul dipikirannya. Lima tahun silam, Bukit Derkuku dalam suasana yang sama, harinya juga persis seperti itu. Mereka sudah mau pulang setelah patroli sejak pagi, tetapi regu mereka berbentur pada peleton KL yang juga sedang patroli.


Setelah sepuluh menit yang rasanya seperti sepuluh jam, mereka dapat perintah mundur ke pangkalan, di sana mereka baru menyadari bahwa Djono tidak ada di antara mereka. Mereka berusaha mencari Djono karena khawatir tersesat. Ternyata, mereka menemukan Djono dalam keadaan gugur. Mereka heran karena dalam keadaan seperti itu, djono tampak tersenyum. Tidak seperti umumnya orang yang gugur pasca kesakitan di medan perang. Di sakunya terdapat foto Tati adik tunggalnya yang berusia tiga tahun.


Pemuda itu menyandarkan kepalanya pada nisan Djono sahabat dekatnya dan berkatalah Djono dari makamnya. Ketika perintah mundur diberikan Djono menuruni Bukit Derkuku, tetapi Ia tertinggal karena kakinya sakit. Dia berusaha untuk berlari sekuatnya, Ia baru menyadari tembakan Belanda membelai telinganya, kemudian ledakan granat menyusul menyukai tubuhnya.


Dalam keadaan luka parah itu, Djono berusaha mencapai atas bukit, kakina yang ingin lepas diseretnya, membayangkan ingin mencapai sorga dan sorga itu seperti Bukit Kuwuk yang harus dicapainya. Kini Ia berada di Jembatan Shirotol Mustakim, yang terentang di atas sungai bernyala-nyala. Tubuhnya bersimbah darah, perutnya lecet kena tanah, rasa sakit menguasainya, dia terus merangkak, di kepalanya terdengar suara orkes memainkan lagu Indonesia Raya dan melihat Merah Putih di puncak bukit.


Dia berhenti merangkak, kepalanya seolah mau lepas dari tubuhnya, ingatannya ke rumah. Baru saja ia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-18. Terbayang wajah Tati adiknya yang selalu bertanya kapan dia bersekolah, dan Ibu selalu menjawab kalau Belanda sudah pergi. Djono merangkak terus, Ia harus mengusir Belanda untuk Tati. Ia lupa rasa sakitnya, di bukit itu Tati berdiri berseragam putih dengan pita merah di rambutnya, Ia menanti kegirangan. Ditangannya, sebuah batu bertulis ‘Tati telah bersekolah’. Kemudian, Djono tertidur dengan senyum lega. Pemuda itu berdiri, berkata pada makam: “Engkau boleh tersenyum lega, Djon! Sekarang Tati sudah kelas tiga.”

5 komentar:

Wazifa Cylindrica mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Wazifa Cylindrica mengatakan...

Makasih udah posting cerpen ini, mbk....
Awalnya kirain punya Idrus, eh ternyata miliknya Nugroho Notosusanto.Nasib cuman tau judulnya aja, Senyum. Pertama kali baca cerpen ini di buku bahasa indonesia peninggalan entah milik siapa. Nyari-nyari bukunya lagi tapi udah menghilang. Makasih, Mbak...

Nanang Rosidi mengatakan...

Ya, saya juga pernah baca di buku pelajaran Bahasa Indonesia, hanya ingat judul. Tapi ini cerita belum legkap, karena yang ada di buku lebih panjang lagi. Ada adegan yang buat saya selalu rindu baca cerpen ini, yaitu ketika si bocah kecil itu diberi uang atau permen (?) kemudian kegirangan dan berkata, "aku diberi...aku diberi...".

Istian Rembonan mengatakan...

Cerpennya bagus

Istian Rembonan mengatakan...

Susah betul cari teks cerpen ini. Ada dlm bentuk pdf tpi tidak bisa dipindahkan ke word. Adakah yang punya teks lengkapnya