Selasa, 02 April 2013
Kalimat Indah Penguat Setiap Jengkal Langkah
Selasa, 06 Maret 2012
Galau Itu Tidak Sederhana
Saya pikir cuma dengan blog, kestressan ini bisa tersalur dengan baik. Pengen galau di twitter, tapi gengsi banget sama follower, secara follower saya banyak mantan aktivisnya. Sungguh malu ini, malu banget sebenernya (padahal gak nyolong yah?), tapi tetep aja tersiksa dengan jaga image. Gak dijaga juga image saya udah lekat sama Korea-Koreanan. Dulu saya di kampus begitu, sekarang begini. Di kampus dulu pengamat kebijakan, sekarang banting setir jadi pengamat dunia per-Kpop-an. Ah..tekanan batin rasanya. Galau di facebook apalagi...isinya udah banyak alaynya, update dikit di-like-in. Padahal saya yakin banget mereka gak tahu apa yang saya omongin di recent updates. Galau lewat DP bbm udah sering. Mungkin yang punya contact bbm saya, yang tadinya gak tau yang namanya Kim Soo Hyun jadi tau Kim Soo Hyun. Sungguh terlalu..ter..la..lu.
Yah, sekarang yang ada di kepala saya cuma bagaimana menyalurkan kestressan ini dengan baik, dari pada gak tersalurkan dan makin stress, udah paling bener banget kayaknya ngegalau di blog. Biarkanlah menjadi sampah di sini, dari pada jadi sampah di otak. Sungguh, galau itu tidak sederhana!
Minggu, 22 Januari 2012
Mati dalam Kegilaan
Ah, Aku sungguh mati benar berada dalam dunia yang dahulu pernah ku anggap kecil.
Dunia yang tadinya tak pernah ku sangka akan mengisi hampir setiap hari hidupku.
Seperti kini ada dua dunia. Dunia fana tapi nyata, dan dunia yang nyata-nyata sulit tuk jadi nyata.
Aku tenggelam mati dalam dunia (yang Aku tahu) kini bisa membuatku menjadi gila.
Ya gila, untuk hal-hal yang nyata-nyata tak sepantasnya membuatku bisa gila.
Ah, sungguh pada titik ini Aku berada dalam kegilaan sejati.
Apa-apain ini, tak pernah seumur-umur hidup di dunia merasakan hal yang bisa membuatku benar-benar gila.
Sungguh terkadang berpikir, ini kegilaan yang tak tepat.
Ah, sungguh Aku mati benar karena kegilaan ini.
Gila tanpa alasan, mungkin tepat menggambarkannya.
Ah biarlah mereka menganggapku gila dalam dunia yang nyata-nyata sulit jadi nyata ini.
Tapi itu tak penting bagiku.
Bagiku, yang Aku tahu, Aku senang berada dalam kegilaan ini.
Aku bisa merasakan kesenangan tersendiri berada dalam duniaku ini.
Aku bisa menghabiskan banyak waktuku dalam dunia ini.
Semacam penyesalan tersendiri harus mengalami kegilaan tersebut.
Tapi apalah arti hidup tanpa kegilaan itu.
Hidup tak pernah benar-benar menjadi lebih berwarna sebelumnya.
Hanya mendengar, hanya melihat, hanya menulis, tak cukup menggambarkan kegilaan ini.
Ya, aku benar-benar mati dalam kegilaan ini.
Tuhan, tolong bangkitkan Aku dalam kematian ini, pintaku. (Malaikat di kananku turut berbisik)
Ah, tapi aku tak mau. Sungguh Aku tak mau.
Aku bisa begitu gembira dalam kegilaan ini, hanya sekadar mendengar, sepintas melihat, dan membaca kabar berita terbaru.
Ah, aku benar-benar mati dalam kegilaan ini.
Hanya menunggu waktu untuk dibangkitkan saja.
Tapi Aku tak mau dibangkitkan, Aku benar-benar menyukai duniaku ini.
Terimakasih Tuhan, ada dunia yang nyata-nyata tak pernah akan jadi nyata ini.
Mungkin juga akan jadi nyata suatu saat (Aku berharap keras)
Sungguh, dunia yang seperti ini benar-benar telah menjadi penyeimbang sejati dunia fana yang begitu nyata.
Seperti berada dalam dua dunia.
Senin, 26 Desember 2011
The Way K-Pop Change Your Life
I was reading very damn cool posts by the one of fandom K-pop on facebook about K-pop fan scan relate. And ‘wadezzing’ I very shocked, that the post really damn true for some cases. That’s the way - how’s K-pop has changed your life a lot.
As long as you became a K-pop fan, all the things below really works to you.
1. Someday. You want to invite all your friends to Korea and live in a historical house
2. Your thoughts on K-pop, K-pop must exist forever.
3. You consider yourself not just his fan but his WIFE
4. K-pop taught you how to be a great stalker
5. When your bias cries, you also cry
6. Since you became a K-pop fan, you started thinking to marry a Korean guy in the future
7. The moment when you cry infront of the computer, all because of K-pop
8. Ever since you became a K-pop fan, other music means nothing to you
9. Since you became a K-pop fan, you started singing birthday son in Korean instead of my own language
10. The moment your mother blame your results on kpop
11. Since you became a K-pop fan, you updated on whats happening with your fave idols/actors life than the idols/actors in your own country
12. SARANGHAE is the first Korean word you have learned in your life. Instead of Annyeonghaseo.
13. To other people, K-Pop is simply music that you can’t understand. But they do not know that to you K-Pop is second life, where you can find happiness in the presence of my fandoms and biases, and enjoyment in their music
14. In hearing the word ‘shiny’, people would think of stars and glitters while you think of Onew, Jonghyun, Minho, Key and Taemin
Senin, 21 November 2011
What We Call Love
(Paulo Coelho)
Paulo Coelho (The Alchemist)
“Does love need a reason?”
Begitulah Paulo Coelho pun menggambarkannya dengan begitu gamblang.
Maka, tidak ada alasan yang begitu tepat untuk menjawab mengapa saya berhak atas gelar #1 Hottest. Karena yang saya rasakan, saya hanya mencintai 2PM sejak pertama kali mengenalnya, tiada alasan yang menyertai, hanya satu keyakinan saya, bahwa saya benar-benar jatuh cinta pada 2PM. Banyak energi positif yang mampu menyeimbangkan kehidupan pribadi saya semenjak lagu-lagu mereka terngiang di telinga ini dan kemudian berputar di kepala saya.
When we love, we always strive to become better than we are.
When we strive to become better than we are, everything around us becomes better too.
Paulo Coelho (The Alchemist)
- Jang Wooyoung, sosok yang paling saya gemari di 2PM, mengajarkan saya untuk selalu optimis.
- Lee Junho, sosok yang manis ini, mengajarkan saya untuk selalu tersenyum .
- Ok Taecyeon, sosok yang kokoh, mengajarkan saya untuk tidak patah semangat.
- Nickhun, sosok pria tampan, mengajarkan saya untuk menjadi seperti apa yang saya inginkan.
- Chansung, sosok yang pemalu, mengajarkan saya untuk selalu hidup dalam mimpi saya.
- Kim Junsu, sosok yang multi talented, mengajarkan saya untuk bekerja keras dan memberikan yang terbaik dalam kehidupan ini.
THAT IS WHAT WE CALL LOVE!!!
Dari situlah, saya menyadari betul bahwa tiada alasan yang tepat untuk menggambarkan apakah saya berhak menjadi #1 Hottest. Tapi saya benar-benar berharap saya bisa melihat mereka dari jarak yang begitu dekat. Merasakan HEARTBEAT mereka. Melihat Wooyoung menari bebas lepas. Melihat senyum Junho yang meneduhkan. Melihat sosok kokoh Taecyeon. Menatap cerminan mimpi lewat wajah Nickhun. Melihat sosok Chansung yang pemalu. Dan mendengar suara indah Kim Junsu. Jika itu semua menjadi kenyataan, hal tersebut benar-benar telah menjadikan kehidupan saya menjadi jauh jauh jauh lebih baik.
Sekali lagi, mengutip kata-kata indah dari Paulo Coelho,
"Love is an untamed force. When we try to control it, it destroys us. When we try to imprison it, it enslaves us. When we try to understand it, it leaves us feeling lost and confused.”
Paulo Coelho
-Ditulis dalam rangka ikut kuis, sayang gagal, mungkin karena terlalu lebay, hahaha-
Senin, 31 Oktober 2011
Bravo Alpha Lima India Part 3
Langsung saja,,banyak destinasi wisata di Bali yang berhasil dikunjungi selama hari ketiga. Beberapa di antaranya antara lain sebagai berikut:
- Tanjung Benoa
Sejujurnya, sampai di Tanjung Benoa sudah agak kesiangan karena hari sebelumnya perjalanan begitu melelahkan, walhasil bangun kesiangan. Cuaca Bali yang mataharinya cerah tidak malu-malu, benar-benar menyengat kulit, bagi yang tidak terbiasa, mungkin berbeda dengan bule yang malah suka sama cahaya matahari yang terik gitu. Walaupun kesiangan, ternyata banyak wahana permainan air yang belum bisa dipergunakan karena tidak ada angin *membuat suasana semakin panas* Alhasil, kami memutuskan untuk langsung berlayar ke pulau seberang yaitu pulau kura-kura (turtle island).
- Turtle Island
Perjalanan yang seru dari Tanjung Benoa menuju Turtle Island. Pertama kalinya banget dalam hidup naik kapal. Cuma bisa berdoa semoga Allah melindungi saya. Karena abangnya rada rese, nyetirnya miring-miringin kapalnya. Mana saya gak bisa renang lagi, bisa-bisa nyebur dikit langsung tenggelam lagi. Heu… Tapi seru juga ternyata, Alhamdulillah gak mabok, dan berhasil dapat suguhan menarik, bisa lihat langsung ikan di bawah laut. Walau tidak jernih-jernih amat, tapi ikannya tetep bisa kelihatan. Coba kalau datang ke Benoanya sore hari., udah pasti banget bisa lihat ikan lumba-lumba.
Selanjutnya, kejadian paling sesuatu banget di Turtle Island adalah memecahkan sejarah diri sendiri, karena pada akhirnya saya berani juga megang ular. Sensasi pegang ular itu antara menjijikkan dan ngeri takut dipatok. Tapi setelah megang, ternyata kulitnya rasanya gitu yah. Ish, jijik. Saya pikir bakal berlendir jorok, tapi ternyata gak separah itu, kasar-kasar gitu. Tapi tetep aja menjijikkan wabil mengerikan. Niatan untuk gendong ular pun pupus banget. Nyali saya tak sebesar apa yang saya inginkan. Padahal pengen banget foto bareng ular. Tapi,bisa megang aja udah sesuatu. Insya Allah, gak lagi-lagi deh megang ular. Hiyakkks….
- Kerajinan Batik Bali
Tidak banyak yang bisa dilihat kecuali cara orang membatik dengan menggunakan malam. Sisanya pas masuk ke dalam toko, geleng-geleng sama harganya. Ya iya sih memang batik tulis, tapi itu sih harga bule deh kayanya -.-"
- Kerajinan Perak
Sebenernya saya bingung, kota perak itu kan Jogja yah, tapi tetep loh, di Bali juga di salah satu desanya terkenal dengan kerajinan peraknya, udah turun temurun pula, makanya saya bingung. Baru lihat cara membuat perak sampai jadi perhiasan yang indah itu kaya gimana. Tapi ternyata beneran rumit dan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi lho. Dan para pekerjanya rata-rata ibu-ibu. Keren deh. Ada satu perhiasan perak yang saya taksir, kalung liontinnya huruf w, bagus banget, harga 350rb. Sayang saya belum mampu beli, mending beli emas sekalian bisa dapat segram, bisa dijual lagi. Hehe
- Tanah lot
Setelah disuguhkan dengan pemandangan indah sepanjang perjalanan menuju turtle island, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan terlebih dahulu didahului makan siang di sebuah restoran. Destinasi kali ini adalah Tanah Lot. Perjalanan yang cukup memakan waktu serta faktor keterlambatan agenda bepergian hari ini membuat kami agak terlambat untuk sampai di Tanah Lot. Tapi beruntung, Kami masih bisa melihat suasana sunset di Tanah Lot.
Subhanallah…sesuatu banget! Indahnya pol banget. Walaupun bagi saya, masih jauh indah Uluwatu karena tepat di bibir tebing.
- Pantai Kuta
Malam ini agak sedeng juga jalan dari Legian sampe Kuta. Kaki superb banget pegel-pegel. Saya pikir deket gitu yah. Ternyata eh ternyata, jauh juga L Udah kepikiran banget gimana pulangnya. Untungnya tidak nyasar.
Super banget sesampainya di Pantai Kuta, bener-bener tidak ada angin sama sekali. Finally, tahu juga kalau itu yang namanya angin laut dan kenapa para nelayan berlayar di malam hari, karena angin bertiup dari darat ke laut. Hahaha. Pelajaran SD banget. Akhirnya ngerti juga.
Karena baru kali pertama sampai di Kuta, belum kebayang seputih apa pasirnya. Yang pasti pasirnya halus banget, tapi menurut saya sih masih halusan pasir di Pantai Pangumbahan, Ujung Genteng. Yah, yang udah pasti banget sih halus lah pasirnya.
Disini kami menikmati suasana pantai malam kuta. Deburan ombaknya, subhanalloh banget. Akhirnya bisa juga ngerasain sensai di pantai malam hari dan kebetulan bulannya lagi bullet sebulet-buletnya, eh belom deng, tapi cukup menerangi kami yang sedang tidur-tiduran dihalusnya pasir pantai. Dan yang menarik adalah ada adegan yang disensor disana, sepertinya sih bapak ibu yang sudah berumur terus honeymoon lagi, soalnya gelap sih gak keliatan, haha. Bagus juga yah nyari tempatnya dalam kondisi yang pencahayaannya hanya mengandalkan sinar bulan. Romantis banget pasti. Haha
- Legian
Akhirnya berpulang juga, berat sekali rasanya membayangkan perjalanan pulang, mengingat pas jalannya aja capek banget. Akhirnya, setelah menginggalkan Kuta, Kami mampir dulu beli jajan di KFC, gahul, daripada kelaperan, ples buat bekal selama perjalanan pulang. Jalan kaki dari Kuta – Legian mengambil rute yang berbeda dari perjalanan awal menuju Kuta. Sebelum memutuskan untuk berjalan kaki sebenarnya kami mencoba untuk tawar-menawar taxi atau delman. Tapi setelah melakukan tawar menawar, ternyata tidak seperti yang dibayangkan, nawar taxi di sana itu bukan pake argo yah, tapi dia yang nentuin harga, ah..gitu amat yah, mana mahal banget, pake itungan bule saya rasa, padahal mah turis domestic, gak delman gak taxi semuanya sama aja mahal. Alhasil kami tetap jalan kaki.
Sepanjang perjalanan karena sudah larut malam, tetap aja kondisi jalanan sepi alih-alih Kuta tempat wisata. Tapi yang menarik, ada arus yang sangat besar menyodot para bule-bule untuk keluar malam hari lebih cantik dari sewaktu pagi/siang di pantai di bawah teriknya sinar matahari. Dengan sebotol bir Heineken ditangan hamper semua bule yang keluar malam waktu itu berjalan kaki menuju Legian. Legian benar-benar jantungnya hip-hip hura. Tempat berkumpulnya hippies. Ada yang sekedar makan, gaul, nongkrong, atau yang berajeb-ajeb, nge-DJ. Pokoknya hidupnya sesuatu banget deh di Legian malam hari. Terkadang mikir juga, pantes aja Legian dibom sama para teroris, gak kuku banget pergaulan bebas di sana.
Minggu, 25 September 2011
Bali Alva Lima India (Part 2)
Tari Barong (Barong Dance)
Perjalanan hari kedua kali ini diawali dengan melihat pagelaran tari Barong. Sebenarnya saya tidak paham, Barong itu digambarkan sebagai apa dalam tradisi Bali, sampai-sampai dia menjadi icon pada hampir seluruh buah tangan khas Bali. What is Barong? Entahlah. Mungkin penjelmaan dewa kali ya. Pasalnya, kali ini saya agak malas untuk nanyain ke Mbah Google. Jadi sebaiknya dilanjutkeun saja ceritanya. Tarif masuk untuk dapat menonton pagelaran tari Barong adalah sebesar Rp 80.000,00. MAHAL! Bagi saya. Dan harga tersebut merupakan harga yang dikenakan pula untuk wisatawan manca negara. Heu heu. Harusnya wisatawan domestik bisa dapat lebih murah deh, mana waktu saya datang udah mulai lagi.
Resto Ayam Taliwang
Selepas menonton tari Barong, perjalanan dilanjutkan ke daerah Bali Utara, yaitu Bangli. Perjalanan ke Bangli memerlukan waktu ± 2jam perjalanan dari destinasi sebelumnya. Sehingga sebelum sampai tempat yang dituju, tim berhenti untuk makan siang. Kali ini, pilihan jatuh pada Resto Ayam Taliwang. Walaaaa…this is it. Makanan kesukaan saya. Best banget! Kalau makan ayam taliwang gak sampe nangis itu gak seru dan ternyata agak berbeda ketika mencicipi ayam taliwang di Bali dan di Lombok. Seperti diketahui, ayam Taliwang sendiri merupakan makanan khas Lombok. Makanan ini sangat unik, walaupun berbahan dasar ayam yang sangat sering kita konsumsi sehari-hari, ayam yang digunakan untuk ayam Taliwang ayamnya sangat kecil, tapi entah kenapa rasanya seperti ayam kampong, padahal bukan. Bagi saya, ayam Taliwang yang saya makan kali itu ‘agak’ berbeda sensasinya sama ayam Taliwang Lombok. Hahaha. Kurang menyengat pedasnya. Ayamnya juga kurang greget rasanya. Plecing kangkungnya apalagi. Kalah juara sama plecing kangkungnya Lombok. Tapi juaralah rasanya, lagi laper soalnya. #plak hahaha.
Bappeda Bangli
Akhirnya, sampai juga di destinasi yang sebenar-benarnya dituju dalam penelitian kali ini, yaitu Bappeda Bangli. Sebaiknya cerita disini di-skip saja. Karena sewaktu di Bappeda, isinya 100% FGD, tidak ada yang bisa diceritakan. Keep it secretly! Hahaha.
Agro Wisata – Bali Coffee
Nah, setelah misi utama selama di Bali selesai dilakukan, destinasi dilanjutkan dengan ber-agro wisata. Super takjub! Allah benar-benar Maha Besar! Bisa menciptakan makhluk hidup yang kotorannya saja bisa menghaslkan cita rasa terenak di dunia. Thanks GOD! Yes, Luwak jawabannya. Masih agak tidak percaya, walaupun saya sudah sering tahu di televisi mengenai proses pembuatan kopi Luwak. Tapi, kali ini Alhamdulillah dapat kesempatan langsung proses pembuatan berbagai macam kopi, mulai dari pemilihan kopi jantan-betina, sampai proses penumbukkannya yang masih dilakukan secara tradisional.
Luwaknya Bobo
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tempatnya yang asri, penuh berbagai macam pepohonan khas Bali, dan kebanyakan pohon tersebut belum pernah saya liat sebelumnya seperti pohon gingseng, pohon kopi, pohon vanili, ada ditempat ini semua. Bahkan ada luwaknya. Luwaknya lagi bobo. Sesuatu banget! Kadang sampai sekarang masih suka gak percaya, kenapa kotorannya Luwak bisa memiliki cita rasa terenak di dunia gitu. Selain karena belum pernah nyobain, mau nyobain juga gak tega rasanya, Rp 50.000,00 untuk satu cup kecil. Hiks. Walaupun jauh lebih murah dibanding harga yang ditawarkan di outlet-outlet kopi seperti Starbucks coffee yang bisa mencapai Rp 175.000 per-cup nya, tapi tetap aja gak tega ngeluarin uang di dompet. Rp 50.000,00 bisa buat makan 7-8kali kayanya. Hahaha. Untungnya dapat gratisan minuman khas Bali lainnya dari mulai Bali coffee, ginger coffee, dan banyak lagi. Sore-sore indah, gak bisa didapat banget di kota-kota wisata Bali lainnya.
Kopi Bali
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tampak Siring
Istana Tampak Siring
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pasca puas dengan keasrian Bangli, perjalanan berlanjut ke istana Tampak Siring. Bener-bener kagum deh, selama perjalanan tidak pernah berhenti bilang kalau Bung Karno itu keren sekali kalau soal arsitektur sampai pemilihan tempat. Sepanjang perjalanan menuju Tampak Siring itu disuguhkan pemandangan yang sangat adem dimata. Sesampainya disana pun, saya tidak berhenti bilang kalau Bung Karno itu keren banget. Terutama ketika sampai di sindangnya (temat pemandian putri-putri kerajaan Bali jaman dulu). Airnya jernih sejernih-jernihnya air. Padahal di bawah sindangnya sendiri ada batu, ada lumutnya juga pasti, ada ikannya malah, dibuat mandi pulak. Tapi jernihnya terjaga banget, mungkin karena itu air di sindang tersebut dipercaya bisa bikin awet muda. Airnya juga boleh diambil dibawa pulang bagi yang ingin, hehe.
Pemandian
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Yang bikin keren adalah ketika melihat istana tampak siring dengan sebuah jembatan yang menghubungkan antara kedua bangunan. Jembatan tersebut bernama jembatan persahabatan, alkisah menurut guide di sana, jembatan persahabatan tersebut itu dibuat Bung Karno untuk mempererat hubungan keluarga beliau. Dahulu, keluarga beliau ‘agak’ renggang dikarenakan kesibukan bung Karno yang luar biasa. Sehingga didesainlah sebuah jembatan yang menjadi penghubung antara ruang utama beliau (ruang kerja beliau) dengan ruang keluarga beliau yang berada disebelahnya. Keren! Selain itu, kerennya adalah ruang kerja beliau didesain sedemikian rupa, manakala beliau lelah dengan rutinitas selama bekerja di ruangan kerjanya, beliau bisa menghadap ke jendela dan melihat pemandangan sindang tempat para putri-putri kerajaan mandi. Brilian! Hahaha. That’s why, sampai meninggalkan Tampak Siring pun saya tidak berhenti bilang kalau Bung Karno itu keren banget!
Khrisna – Pusat Oleh-Oleh Khas Bali
Senja berlalu. Perjalanan kembali menuju Legian (bungalow tempat kami menginap) membutuhkan waktu ±2jam. Setelah puas tidur selama dalam perjalanan. Bangun-bangun harus bingung milih oleh-oleh di pusat oleh-oleh khas Bali – Khrisna. Super gede. Harganya juga miring. Tapi untuk yang mau harga lebih miring lagi lebih baik ke Pasar Sukowati. Kalau di Khrisna walaupun harganya beda dikit sama di pasar Sukowati, kualitas Insya Allah terjamin baik. Pilihan ada di tangan pribadi masing-masing. Kalau saya, Alhamdulillah dapat pengalaman, sebaiknya beli oleh-oleh di pasar Sukowati saha. Hehe. Udah terlanjur beli beberapa di Khrisna, bisa jadi pelajaran.
Pesta Seafood
Kisah menarik disini: saya hanya ingin membuat pengakuan bahwa saya baru pertama kali dalam seumur hidup saya makan kepiting dan ternyata rasanya itu ‘Sesuatu’ banget. Terima Kasih ya Allah. #sekian
Legian
Hiyak, setelah selesai kenyang makan. Malam menjelang. Sekitar pukul 10 malam. Setelah beberes sebentar menaruh barang-barang. Jadilah kami (minus dospem) melanglang sepanjang jalan Legian. Legian, the city never sleeps! Kota nocturnal. Super hidup di waktu malam. Jam-jam segitu bule-bule dari segala penjuru Bali tumpah ruah di Legian untuk melakukan anggukan universal alias nge-dugem. Sumpah! Jalan pakai jilbab seperti saya dan beberapa teman jadi ‘sesuatu’ banget rasanya. Berbeda dengan bule-bule, makin malam makin seksi, makin cantik, dengan satu buah bir Heineken di tangan, jalan bergerombol menuju legian. Luar biasa, malam di Legian! Apakah ini yang menjadi alas an Imam Samudra ngebom Legian Oktober 2002? Entahlah. Tapi saya sebagai muslim sejujurnya sedih, tapi mau gimana lagi. Hehe. Insya Allah mereka orang-orang baik, sumber penghidupan warga Legian juga, simbosis mutualisme. Mudah-mudahan… aamiin.
Salah Satu Pemandangan Malam di Sebuah Cafe di Legian
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sabtu, 17 September 2011
Bravo Alva Lima India (Part 1)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala Puji Bagi Allah. Akhirnya, bisa juga menyempatkan waktu untuk berbagi cerita lagi dalam gitacintanyawilis. Rasanya sudah lama sekali tidak menulis di blog ini, padahal banyak cerita yang bisa tertuang, sampah yang bisa terbuang, dan hati yang (mungkin) bisa tertambat. Teruntuk kali ini, sepertinya yang paling tepat adalah menuangkan cerita seputar perjalanan empat hari tiga malam (6-9 September) di Bali. Insya Allah, banyak pelajaran dan hal-hal menarik yang bisa diambil dari cerita ini.
Adapun menjadikan Bali sebagai tempat penelitian bukanlah tanpa alasan. Bali dipilih sebagai site penelitian, dikarenakan beberapa site di Bali sangat cocok untuk mendukung analisis data penelitian, walaupun tak semua peneliti bisa melakukan penelitian di Bali. Site penelitian tersebut diantaranya di daerah Bangli, dimana Kabupaten tersebut merupakan ‘hutannya Bali’. Bangli menjadi satu-satunya di Bali yang bisa dibilang ‘tidak diperbolehkan’ untuk mengalihfungsikan daerahnya sebagai sentrawisata seperti daerah-daerah lain misal Kabupaten Badung yang pendapatan terbesarnya berasal dari objek wisata, Pura Uluwatu, ungkap Pak Made, driver tersabar yang setia menemani perjalanan selama Kami di Bali. Dalam hal ini, Bangli sangat terkenal sebagai kota agropolitan dimana produk utamanya antara lain Sapi Bali dan Kopi Bali.
Pada dasarnya, penelitian di Bali selain dalam rangka memenuhi data yang dibutuhkan, juga merupakan ajang bagi peneliti untuk lebih solid lagi, mengingat jangka waktu penelitian yang panjang hingga Desember tahun ini. Perjalanan ke Bali kali ini boleh dibilang sangat terfasilitasi dengan baik, dari mulai transportasi, akomodasi, konsumsi, mengingat dana penelitian dalam rangka perjalanan ini sudah sesuai dengan RKAT, Insya Allah tepat sasaran. Karena untuk ke tempat-tempat wisata, menjadi tanggungan pribadi masing-masing peneliti.
Tak perlu berpanjang kata soal penelitian, sebaiknya mari bercerita saja soal perjalanan selama di sana. Karena proporsi terbesar perjalanan di Bali memang untuk jalan-jalan: 20% untuk penelitian, 80% untuk jalan-jalan. Hahahaha. Semuanya sesuai dengan prosedur perjalanan yang telah disusun langsung oleh Ketua Tim. Sebagai anggota penelitian, selama data-data sudah terpenuhi, setelahnya terserah kemana driver mengantar.
Day 1
Makan Siang (lupa nama Restorannya – Insya Allah HALAL)
Perjalanan di Bali berlangsung selama empat hari tiga malam. Berangkat menggunakan pesawat pagi hari, kami sampai di Bali siang hari, mengingat adanya perbedaaan waktu, di mana waktu Bali lebih cepat satu jam dari waktu di Jakarta. Sesampainya di Bali dan telah dijemput driver, Kami langsung menuju tempat makan untuk makan siang. Pertama kali masuk ke restoran, saya pikir akan “Bali” banget suasananya. Ternyata eh ternyata, disambut dengan lagu Sunda, sesuatu banget deh. Alhamdulillah yah, udah di Bali, tapi masih berasa di Mang Kabayan Margonda - Depok. Benar-benar sesuatu banget, padahal tempatnya udah nuansa ‘Bali’ banget, kali ini musik tak pernah berbohong, hati saya masih di Depok (masih jetlag maksudnya). Hahaha. Selesai makan masakan yang juga khas Sunda banget, perjalanan dilanjutkan menuju ke selatan Bali, dan destinasi pertama kami adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK).
Garuda Wisnu Kencana (GWK)
Garuda Wisnu Kencana
Foto: Dokumentasi Pribadi
Garuda Wisnu Kencana merupakan salah satu objek wisata yang bikin takjub juga. Ada aja orang iseng bikin patung mau ngalahin patung Liberty. Hahaha. Luar biasa, pematungnya! Berada diketinggian (entahlah berapa), lokasi patung GWK ini merupakan lokasi tertinggi yang ada di Provinsi Bali. Tak heran, walau matahari tengah terik-teriknya, di kawasan ini, wisatawan tidak perlu takut kegerahan karena angin yang berhembus sangat sejuk. Tiket masuk untuk menuju tempat ini sebesar Rp. 25.000 untuk dewasa, dan untuk pelajar sebesar Rp. 20.000. Dengan harapan besar dapat harga pelajar, Kami sudah siap dengan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Ternyata eh ternyata, mahasiswa masuk itungan dewasa. Hahaha. Padahal udah ngarep banget masuk kategori pelajar. Hahaha.
Sesampainya di lokasi ini, yang ada dibenak saya hanya terpikir, bagaimana ini patung yang tingginya dua kali tinggi rumah saya dibawa dari Bandung. Mengingat pematungnya berasal dari Bandung, dan proses pembuatannya pun dilakukan di Bandung. Ish…kerenlah pokoknya. Subhanalloh. Walaupun konstruksi patung GWK ini belum selesai, dimana antara patung Dewa Wisnu, patung Garuda, serta tangan Dewa Wisnu letaknya masih terpisah-pisah, tapi patung GWK ini sudah dapat dipastikan sangat amat megah sekali, dan seperti perkiraan akan melebihi tinggi patung Liberty. Mungkin kalau benar adanya seperti itu, Pulau Jawa dan Pulau Lombok bisa terlihat dari patung GWK. Luar biasa!

Selain patungnya yang keren, wisatawan di lokasi ini juga disuguhkan dengan pemandangan gunung kapur yang di ‘papras’ (gak tahu bahasa yang lebih enak dari ini apa) Intinya, gunung kapurnya dibentuk sedemikian rupa, jadinya seperti di kelilingi apa gitu kalau berdiri di lokasi. Selain itu, di lokasi ini juga ada mata air yang dipercayai suci dan barangsiapa yang meminta doanya supaya cepat terkabul bisa ke mata air tersebut untuk meminumnya. Menurut informasi dari penjaga setempat, mata air ini tidak habis-habis walau musim kemarau berkepanjangan. Bagi yang percaya, mungkin bisa dicoba.
Pantai Dream Land
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Dream Land. Sesampainya di pantai ini, wisatawan akan disuguhkan pemandangan pasir putih yang eksotis lengkap dengan saung-saung tempat pijat, hahaha. Ombak laut yang sangat prima di pantai ini sangat cocok bagi para pecinta surfing. Ombaknya pas mantab! Selain itu, disini wisatawan lokal akan disuguhkan pemandangan bule-bule yang sedang berjemur dengan asyiknya di tengah teriknya matahari kala itu. Pemandangan yang kontras sekali dengan Kami yang kala itu berpakaian tertutup terutama bagi kami yang berjilbab. Hahaha. Mungkin bule-bule disitu keheranan juga kali yah, orang ke pantai pakai baju kok tertutup, padahal lagi panas sepanas-panasnya. *Sambil terus istigfar*

Pura Uluwatu – Kecak Dance
Astagfirullah ternyata berlanjut hingga tempat ini. Kejadian super seru paling saya rasakan pada akhir destinasi hari pertama di Bali yaitu di Uluwatu. Warning! Bagi siapa saja yang mengunjungi tempat ini waspadalah! Waspadalah! Monyet di Uluwatu super banget ganasnya. Naluri untuk nyolongnya gede banget. Jadi, kalau sesampainya disini, sebelum memasuki daerah Uluwatu, sebaiknya barang-barang seperti kacamata, topi, barang-barang yang agak bling-bling harap diselamatkan terlebih dahulu. Selain monyetnya bandel, tampilannya memang sangar sodara-sodara, makmur-makmur banget monyetnya, pintar cari makan mereka. Karena bagi siapapun yang berhasil diambil barangnya sama itu monyet, dijamin barang tidak akan kembali, kecuali pawangnya kasih makan. Intinya harus disogok dulu monyetnya biar mau ngembaliin barang yang diambil. Hehe
Balik lagi ke Uluwatu-nya. Uluwatu benar-benar eksotis. Subhanallah banget. Sesuatu pokoknya. Kalau manusia ada aja yang sombong, coba aja liat eksotisme Uluwatu, harus takjub dan merasa diri lemah atas kebesaran Tuhan. Luar biasa indah! Yang bikin seru dari perjalanan sore menanti sunset di Uluwatu selain melihat sekeliling pura adalah ketika lagi foto-in dosen pembimbing. Resenya adalah dosen pembimbing tau ada monyet ganas lagi ngincer sandal saya, tapi dia diem aja, biar saya fokus ngambil foto dia katanya. Dan jeng jeng jeng. Akhirnya, terjadilah perang antara kaki saya dan monyet, tidak tanggung-tanggung, dua monyet berebutan mau ambil sandal saya. Muka udah kepalang jelek banget, mau nangis, sandal udah dicakar-cakar pake kukunya monyet, hiks. Tapi pada akhirnya, perjuangan saya berhasil, sodara-sodara. Super… Alhamdulillah ya Allah. Sesuatu banget, bisa lolos dari dua monyet binal yang mau ambil sandal saya.
Kalau mengingat perjuangan saya mempertahankan sandal oke juga ternyata, karena mba-mba di depan saya sendalnya abis digerogotin (dirusak) sama monyet pasca berhasil direbut. Yang bikin prihatin adalah tak lama setelah sandal si mba dirusak, monyetnya bahkan ngerampas anting mbanya, sumpah liar banget monyetnya. Kasian mbanya, sudah sandal hilang, anting dirampas pula. Entah karena pertahanan si mba terlalu mudah dipatahkan atau memang monyetnya ngefans sama mbanya. Tapi yang pasti, saya bersyukur sekali bisa mempertahankan sandal, harganya lumayan soalnya, bisa buat makan warteg 7-10 kali.
Lanjut ke perjalanan selama di Uluwatu, kami bersepakat untuk menonton Kecak Dance. Harga tiket untuk menonton tari Kecak ini seharga Rp 70.000,00. Lumayan menguras kantong juga untuk wisatawan domestik, pasalnya harga tersebut tidak dibedakan dengan tarif bagi wisatawan luar negeri. Setelah mendapat tiket, wisatawan akan mendapatkan sinopsis cerita yang akan dibawakan dalam tari Kecak tersebut sesuai dengan bahasa yang digunakan. Kalau sepengamatan saya antara lain ada Bahasa Indonesia, Jepang, Korea, Mandarin, dan Bahasa Inggris. Sinopsis cerita tersebut sangat membantu memahami alur Tari Kecak yang dibawakan.
Tari Kecak baru akan dimulai jam 18.00 WITA, untuk mengisi waktu menunggu dimulainya pagelaran, kami langsung menuju spot pagelaran untuk melihat sunset. Spotnya itu loh, luar biasa kece banget sodara-sodara. Kalau ke tempat ini, wajib banget take-in tempat duduk secepatnya, karena kalau telat dikit pasti sudah penuh dan gak dapat tempat duduk. Di tempat ini bakal berasa banget lho bangganya sama budaya Indonesia. Bule-bule, oppa unni dari korea, bersama wisatawan dai luar negeri lainnya, tumpah ruah duduk menanti sunset+pegelaran Tari Kecak. Eksotis banget!
Akhirul kalam: Sunsetnya keren banget + Tari Kecaknya AWESOME! Speechless. Pulau Dewata, eksotis!


Tari Kecak
Foto: Dokumentasi Pribadi
Cerita perjalanan selama di Bali akan berlanjut! Nantikan part berikutnya. Banyak tempat, banyak cerita. Best Itenerary, terimakasih Ibu Dosen Pembimbing
Sabtu, 21 Mei 2011
Never Part With Your Dreams
Never part with your dreams. When they're gone, you might still exist, but you cease to live
Dan kalimat indah tersebutlah yang mampir di motivational quote of the day di blog ini. Bukan kebetulan memang, karena saya sendiri yang menaruh link-nya ke dalam blog ini. Kenapa? Karena hidup itu tak pernah akan sendiri, kecuali kita memilih lain. Kita akan selalu butuh motivasi dan begitu pula Kita akan memotivasi orang disekeliling kita, sadar atau tidak. Maka yang saya butuhkan selalu dimanapun itu adalah motivasi, tak terkecuali dalam blog ini.
Rasa-rasanya tepat sekali ketika kalimat tersebut mampir disaat-saat seperti ini. Dream atau mimpi menjadi sebuah hal yang tak akan habis untuk dibicarakan. Kalau berbicara soal mimpi jadi suka teringat dengan narasi, “berawal dari mimpi, lalu bla bla bla…semua menjadi nyata” benar juga rupanya. Sudah banyak cerita inspiratif soal the power of dreams yang berujung pada kesuksesan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ya, memang hidup itu harus punya mimpi dan kekuatan mimpi itu memang hebat, tiada terkecuali, bagi saya mimpi itu hebat. As simple as that…
Setiap orang memiliki mimpinya masing-masing. Dan saya pastikan mimpi orang-orang di luar sana jauh lebih hebat, saya percaya itu. Bukan, bukan karena mimpi saya tidak hebat, tapi hanya saja yang saya yakini bahwa mimpi saya juga tidak biasa. Mimpi yang mungkin terdengar utopis bahwa Saya ingin menjadi generasi pengubah bukan generasi penerus. Itu saja. Dengan apa? Dengan menjadi abdi negara. Seperti apa? Seperti Bapak Djoko Widodo, pemimpin yang mengakar dan membumi, Kota Solo pastilah kian Berseri dengan sosok pemimpin seperti beliau. Pemimpin yang sungguh berdiri atas nama pengabdian, tiada lain tiada bukan semua demi mensejahterakan rakyatnya, there’s no I in their leadership, semua untuk rakyat. Maka sesimple itulah mimpi saya, menjadi abdi negara! Mengabdi pada Allah lewat negeri ini. Semoga saya dapat mengikuti dan meneladani jejak beliau suatu saat nanti, aamiin...
Never part with your dreams.
Jangan berpisah dengan impian Anda.
When they're gone, you might still exist, but you cease to live
Ketika mimpi itu sudah pergi, Anda mungkin masih hidup, tetapi Anda akan berhenti hidup.

Just follow your dream..
"Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu"
Sabtu, 09 April 2011
Clubbing With D-Tech Mouse
Clubbing With D-Tech Mouse merupakan video ‘karya iseng’ saya di sela-sela rutinitas pengerjaan skripsi. Video ini berawal pada ketertarikan saya pada nuansa sorot lampu warna-warni yang biasa ada pada mouse computer/laptop, dan pada kesempatan kali ini saya menggunakan D-Tech Mouse. D-Tech Mouse mungkin merupakan satu dari banyaknya merk mouse (perangkat keras), namun bagi saya selain sebagai mouse yang membantu perpindahan kursor untuk memperbaiki setiap kalimat demi kalimat skripsi, D-Tech mouse kali ini sangat spesial karena mampu menggugah imajinasi dan menginspirasi saya untuk berkreasi.
Tak sangka, D-Tech Mouse benar-benar telah membuat saya berpikir ‘gila’ di tengah kebuntuan pengerjaan skripsi. Kerlap-kerlip lampu di dalam mouse menerbangkan imajinasi saya ke lantai dansa. Lantai dansa yang terlintas di dalam benak saya kali ini tentu saja sangat bermandi cahaya, kerlap-kerlip, begitu menarik di dalam remang-remangnya ruang ‘club’ dimana para sosialita ibukota ‘berdansa’ hingga pagi buta.
Tanpa berpikir panjang lagi, bermodal imajinasi ‘gila’ yang sangat realistis tersebut saya membuat sebuah video singkat yang saya beri judul “Clubbing with D-Tech Mouse”. Bermain dengan D-Tech Mouse dan menganalogikannya sebagai lampu bar/club yang sangat bermandi cahaya agaknya memang tepat. Selanjutnya, jika membayangkan sebuah club, maka rasanya tak lengkap bila tanpa diiringi music. Tentunya, music kali ini harus up-beat agar video kali ini benar-benar mencerminkan suasana dalam club yang sangat riuh dalam gemerlap mandi sinar cahaya. Pencarian music pun dimulai! Pemilihan lagu yang tepat menjadi mutlak demi mendukung tersampaikannya ‘imajinasi’ saya dalam pembuatan video tersebut. Dan pada kesempatan ini, DJ ‘Disc Jockey’ adalah jawabnya!
Dalam lantai dansa sendiri, profesi DJ sangat pretisius karena music yang dibawakannya. DJ memiliki peran yang sangat penting di dalam club karena music yang dia bawakan merupakan unsur utama tercapainya ‘kenikmatan dalam berdansa’. Saya sendiri sebenarnya belum pernah ‘bermain’ di lantai dansa, sehingga semua yang saya tulis diatas tentunya hanya berdasar pengamatan sekunder dari informasi-informasi terkait yang telah ada. Dari situlah, saya paham bahwa music-music di lantai dansa ini sangat up-beat, dinamis, dan benar-benar bisa membuat setiap orang larut ‘berdansa’ dalam mandi cahaya.
Dari apa yang tergambar dalam benak saya tersebut, berbagai lagu dari berbagai DJ kenamaan di dunia mulai saya pilah. Namun, kali ini saya tidak ingin membuang banyak waktu saya untuk memilih lagu, sehingga saya putuskan untuk menggunakan lagu Grenade yang dipopulerkan oleh Bruno Mars. Lagu Grenade yang saya pilih kali ini merupakan hasil kolaborasi dari Bruno Mars featuring DJ Ian, yang menjadi sangat ciamik karena dimix oleh DJ Ian. Music yang up beat, dinamis, dan juga sangat popular saat ini kiranya tepat saya pilih untuk segera memuaskan ‘imajinasi’ saya.
Baik D-Tech Mouse maupun lagu Grenade yang akan diputar pada software Media Monkey dalam Dell Latitude D 600 (laptop masa depan) semuanya telah siap. Kini giliran Blackberry Curve 8520 dipersiapkan untuk merekamnya. Setelah semuanya telah siap, bermodal imajinasi ‘iseng’, music dimainkan, alat perekam berputar, dan inilah hasilnya:
Sabtu, 14 Maret 2009
Wilis bicara cinta...
Wilis bicara cinta..
bukan cinta jika itu buta
karena cinta tidak membutakan
hanya saja diri kita yang buta akan cinta
sebab cinta itu punya hati
dan hati adalah milik diri
maka..
tak pantas jika diri dipermainkan cinta
memang..
cinta itu sulit terdefinisi
bahkan..
tak seorang pun tahu dengan pasti
apa definisi dari cinta itu sendiri
jelas memang..
makna cinta itu sangatlah luas dan kompleks
tiap hati dapat berbeda dalam memaknainya
memaknai 5 huruf yang terangkai menjadi kata yang indah yaitu CINTA
cinta itu bagai konstanta dibagi dengan nol
hasilnya pun menjadi tak terhingga
jelas memang..
makna cinta itu bagaikan matematika
tiap hati harus mampu memberikan nilai yang sempurna
sempurna bagi yang mampu memperhitungkan angka dalam setiap permainan cintanya
cinta itu bagai udara kehidupan
tak bisa dilihat kepada siapa kehidupan itu diberi
namun..
hanya jiwa-jiwa yang hidup untuk cinta
yang pasti akan mampu merasakannya
menghirupnya untuk memaknai cinta
dan menghembuskannya untuk membagi cinta kepada sesama
jelas memang..
makna cinta itu sangatlah abstrak
tiap hati harus mampu menghidupkan cinta di dalam diri dan
merasakannya sebagai sebuah kehidupan
yang hadir dalam jiwa..
jiwa yang haus akan cinta
jiwa yang hidup untuk cinta
dan jiwa yang berjuang dan berkorban untuk cinta
dan bukan cinta yang haus akan raga
dan bukan cinta yang hidup untuk jiwa
dan bukan cinta yang berkorban untuk jiwa lain
bukan cinta dalam definisi manusia
cinta yang semu, temporadik,
dan terkadang hanya dinisbatkan lewat hasrat ragawi semata
cinta yang sesungguhnya itu..
cinta yang hakiki walau seringkali kita tak merasakan dan bahkan mengabaikan
cinta yang tetap setia walau kita bergelimang kenistaan
cinta yang selalu memberi walau seringkali disakiti
dan cinta itu adalah milik-NYA, ALLAH..
maka..
berbahagialah kita yang selalu dicintai-NYA
sekarang tinggal bagaimana kita mencintai-NYA
walaupun sulit bagi jiwa-jiwa yang lemah ini..
tapi, yakinlah bahwa belajar untuk mencintai-NYA
akan mampu memberikan kita nafas-nafas cinta yang jauh lebih manusiawi
gitacintanya wilis, 9 Maret 2009
dari aku, pencari hakikat cinta
dan dari jiwaku, jiwa yang rindu akan cinta-MU
aku sampaikan cintaku pada-MU
maaf, aku belum mencintai-MU sepenuhnya
padahal cinta-MU tak terhingga bagiku