Senin, 31 Oktober 2011
Bravo Alpha Lima India Part 3
Langsung saja,,banyak destinasi wisata di Bali yang berhasil dikunjungi selama hari ketiga. Beberapa di antaranya antara lain sebagai berikut:
- Tanjung Benoa
Sejujurnya, sampai di Tanjung Benoa sudah agak kesiangan karena hari sebelumnya perjalanan begitu melelahkan, walhasil bangun kesiangan. Cuaca Bali yang mataharinya cerah tidak malu-malu, benar-benar menyengat kulit, bagi yang tidak terbiasa, mungkin berbeda dengan bule yang malah suka sama cahaya matahari yang terik gitu. Walaupun kesiangan, ternyata banyak wahana permainan air yang belum bisa dipergunakan karena tidak ada angin *membuat suasana semakin panas* Alhasil, kami memutuskan untuk langsung berlayar ke pulau seberang yaitu pulau kura-kura (turtle island).
- Turtle Island
Perjalanan yang seru dari Tanjung Benoa menuju Turtle Island. Pertama kalinya banget dalam hidup naik kapal. Cuma bisa berdoa semoga Allah melindungi saya. Karena abangnya rada rese, nyetirnya miring-miringin kapalnya. Mana saya gak bisa renang lagi, bisa-bisa nyebur dikit langsung tenggelam lagi. Heu… Tapi seru juga ternyata, Alhamdulillah gak mabok, dan berhasil dapat suguhan menarik, bisa lihat langsung ikan di bawah laut. Walau tidak jernih-jernih amat, tapi ikannya tetep bisa kelihatan. Coba kalau datang ke Benoanya sore hari., udah pasti banget bisa lihat ikan lumba-lumba.
Selanjutnya, kejadian paling sesuatu banget di Turtle Island adalah memecahkan sejarah diri sendiri, karena pada akhirnya saya berani juga megang ular. Sensasi pegang ular itu antara menjijikkan dan ngeri takut dipatok. Tapi setelah megang, ternyata kulitnya rasanya gitu yah. Ish, jijik. Saya pikir bakal berlendir jorok, tapi ternyata gak separah itu, kasar-kasar gitu. Tapi tetep aja menjijikkan wabil mengerikan. Niatan untuk gendong ular pun pupus banget. Nyali saya tak sebesar apa yang saya inginkan. Padahal pengen banget foto bareng ular. Tapi,bisa megang aja udah sesuatu. Insya Allah, gak lagi-lagi deh megang ular. Hiyakkks….
- Kerajinan Batik Bali
Tidak banyak yang bisa dilihat kecuali cara orang membatik dengan menggunakan malam. Sisanya pas masuk ke dalam toko, geleng-geleng sama harganya. Ya iya sih memang batik tulis, tapi itu sih harga bule deh kayanya -.-"
- Kerajinan Perak
Sebenernya saya bingung, kota perak itu kan Jogja yah, tapi tetep loh, di Bali juga di salah satu desanya terkenal dengan kerajinan peraknya, udah turun temurun pula, makanya saya bingung. Baru lihat cara membuat perak sampai jadi perhiasan yang indah itu kaya gimana. Tapi ternyata beneran rumit dan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi lho. Dan para pekerjanya rata-rata ibu-ibu. Keren deh. Ada satu perhiasan perak yang saya taksir, kalung liontinnya huruf w, bagus banget, harga 350rb. Sayang saya belum mampu beli, mending beli emas sekalian bisa dapat segram, bisa dijual lagi. Hehe
- Tanah lot
Setelah disuguhkan dengan pemandangan indah sepanjang perjalanan menuju turtle island, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan terlebih dahulu didahului makan siang di sebuah restoran. Destinasi kali ini adalah Tanah Lot. Perjalanan yang cukup memakan waktu serta faktor keterlambatan agenda bepergian hari ini membuat kami agak terlambat untuk sampai di Tanah Lot. Tapi beruntung, Kami masih bisa melihat suasana sunset di Tanah Lot.
Subhanallah…sesuatu banget! Indahnya pol banget. Walaupun bagi saya, masih jauh indah Uluwatu karena tepat di bibir tebing.
- Pantai Kuta
Malam ini agak sedeng juga jalan dari Legian sampe Kuta. Kaki superb banget pegel-pegel. Saya pikir deket gitu yah. Ternyata eh ternyata, jauh juga L Udah kepikiran banget gimana pulangnya. Untungnya tidak nyasar.
Super banget sesampainya di Pantai Kuta, bener-bener tidak ada angin sama sekali. Finally, tahu juga kalau itu yang namanya angin laut dan kenapa para nelayan berlayar di malam hari, karena angin bertiup dari darat ke laut. Hahaha. Pelajaran SD banget. Akhirnya ngerti juga.
Karena baru kali pertama sampai di Kuta, belum kebayang seputih apa pasirnya. Yang pasti pasirnya halus banget, tapi menurut saya sih masih halusan pasir di Pantai Pangumbahan, Ujung Genteng. Yah, yang udah pasti banget sih halus lah pasirnya.
Disini kami menikmati suasana pantai malam kuta. Deburan ombaknya, subhanalloh banget. Akhirnya bisa juga ngerasain sensai di pantai malam hari dan kebetulan bulannya lagi bullet sebulet-buletnya, eh belom deng, tapi cukup menerangi kami yang sedang tidur-tiduran dihalusnya pasir pantai. Dan yang menarik adalah ada adegan yang disensor disana, sepertinya sih bapak ibu yang sudah berumur terus honeymoon lagi, soalnya gelap sih gak keliatan, haha. Bagus juga yah nyari tempatnya dalam kondisi yang pencahayaannya hanya mengandalkan sinar bulan. Romantis banget pasti. Haha
- Legian
Akhirnya berpulang juga, berat sekali rasanya membayangkan perjalanan pulang, mengingat pas jalannya aja capek banget. Akhirnya, setelah menginggalkan Kuta, Kami mampir dulu beli jajan di KFC, gahul, daripada kelaperan, ples buat bekal selama perjalanan pulang. Jalan kaki dari Kuta – Legian mengambil rute yang berbeda dari perjalanan awal menuju Kuta. Sebelum memutuskan untuk berjalan kaki sebenarnya kami mencoba untuk tawar-menawar taxi atau delman. Tapi setelah melakukan tawar menawar, ternyata tidak seperti yang dibayangkan, nawar taxi di sana itu bukan pake argo yah, tapi dia yang nentuin harga, ah..gitu amat yah, mana mahal banget, pake itungan bule saya rasa, padahal mah turis domestic, gak delman gak taxi semuanya sama aja mahal. Alhasil kami tetap jalan kaki.
Sepanjang perjalanan karena sudah larut malam, tetap aja kondisi jalanan sepi alih-alih Kuta tempat wisata. Tapi yang menarik, ada arus yang sangat besar menyodot para bule-bule untuk keluar malam hari lebih cantik dari sewaktu pagi/siang di pantai di bawah teriknya sinar matahari. Dengan sebotol bir Heineken ditangan hamper semua bule yang keluar malam waktu itu berjalan kaki menuju Legian. Legian benar-benar jantungnya hip-hip hura. Tempat berkumpulnya hippies. Ada yang sekedar makan, gaul, nongkrong, atau yang berajeb-ajeb, nge-DJ. Pokoknya hidupnya sesuatu banget deh di Legian malam hari. Terkadang mikir juga, pantes aja Legian dibom sama para teroris, gak kuku banget pergaulan bebas di sana.
Minggu, 25 September 2011
Bali Alva Lima India (Part 2)
Tari Barong (Barong Dance)
Perjalanan hari kedua kali ini diawali dengan melihat pagelaran tari Barong. Sebenarnya saya tidak paham, Barong itu digambarkan sebagai apa dalam tradisi Bali, sampai-sampai dia menjadi icon pada hampir seluruh buah tangan khas Bali. What is Barong? Entahlah. Mungkin penjelmaan dewa kali ya. Pasalnya, kali ini saya agak malas untuk nanyain ke Mbah Google. Jadi sebaiknya dilanjutkeun saja ceritanya. Tarif masuk untuk dapat menonton pagelaran tari Barong adalah sebesar Rp 80.000,00. MAHAL! Bagi saya. Dan harga tersebut merupakan harga yang dikenakan pula untuk wisatawan manca negara. Heu heu. Harusnya wisatawan domestik bisa dapat lebih murah deh, mana waktu saya datang udah mulai lagi.
Resto Ayam Taliwang
Selepas menonton tari Barong, perjalanan dilanjutkan ke daerah Bali Utara, yaitu Bangli. Perjalanan ke Bangli memerlukan waktu ± 2jam perjalanan dari destinasi sebelumnya. Sehingga sebelum sampai tempat yang dituju, tim berhenti untuk makan siang. Kali ini, pilihan jatuh pada Resto Ayam Taliwang. Walaaaa…this is it. Makanan kesukaan saya. Best banget! Kalau makan ayam taliwang gak sampe nangis itu gak seru dan ternyata agak berbeda ketika mencicipi ayam taliwang di Bali dan di Lombok. Seperti diketahui, ayam Taliwang sendiri merupakan makanan khas Lombok. Makanan ini sangat unik, walaupun berbahan dasar ayam yang sangat sering kita konsumsi sehari-hari, ayam yang digunakan untuk ayam Taliwang ayamnya sangat kecil, tapi entah kenapa rasanya seperti ayam kampong, padahal bukan. Bagi saya, ayam Taliwang yang saya makan kali itu ‘agak’ berbeda sensasinya sama ayam Taliwang Lombok. Hahaha. Kurang menyengat pedasnya. Ayamnya juga kurang greget rasanya. Plecing kangkungnya apalagi. Kalah juara sama plecing kangkungnya Lombok. Tapi juaralah rasanya, lagi laper soalnya. #plak hahaha.
Bappeda Bangli
Akhirnya, sampai juga di destinasi yang sebenar-benarnya dituju dalam penelitian kali ini, yaitu Bappeda Bangli. Sebaiknya cerita disini di-skip saja. Karena sewaktu di Bappeda, isinya 100% FGD, tidak ada yang bisa diceritakan. Keep it secretly! Hahaha.
Agro Wisata – Bali Coffee
Nah, setelah misi utama selama di Bali selesai dilakukan, destinasi dilanjutkan dengan ber-agro wisata. Super takjub! Allah benar-benar Maha Besar! Bisa menciptakan makhluk hidup yang kotorannya saja bisa menghaslkan cita rasa terenak di dunia. Thanks GOD! Yes, Luwak jawabannya. Masih agak tidak percaya, walaupun saya sudah sering tahu di televisi mengenai proses pembuatan kopi Luwak. Tapi, kali ini Alhamdulillah dapat kesempatan langsung proses pembuatan berbagai macam kopi, mulai dari pemilihan kopi jantan-betina, sampai proses penumbukkannya yang masih dilakukan secara tradisional.
Luwaknya Bobo
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tempatnya yang asri, penuh berbagai macam pepohonan khas Bali, dan kebanyakan pohon tersebut belum pernah saya liat sebelumnya seperti pohon gingseng, pohon kopi, pohon vanili, ada ditempat ini semua. Bahkan ada luwaknya. Luwaknya lagi bobo. Sesuatu banget! Kadang sampai sekarang masih suka gak percaya, kenapa kotorannya Luwak bisa memiliki cita rasa terenak di dunia gitu. Selain karena belum pernah nyobain, mau nyobain juga gak tega rasanya, Rp 50.000,00 untuk satu cup kecil. Hiks. Walaupun jauh lebih murah dibanding harga yang ditawarkan di outlet-outlet kopi seperti Starbucks coffee yang bisa mencapai Rp 175.000 per-cup nya, tapi tetap aja gak tega ngeluarin uang di dompet. Rp 50.000,00 bisa buat makan 7-8kali kayanya. Hahaha. Untungnya dapat gratisan minuman khas Bali lainnya dari mulai Bali coffee, ginger coffee, dan banyak lagi. Sore-sore indah, gak bisa didapat banget di kota-kota wisata Bali lainnya.
Kopi Bali
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Tampak Siring
Istana Tampak Siring
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pasca puas dengan keasrian Bangli, perjalanan berlanjut ke istana Tampak Siring. Bener-bener kagum deh, selama perjalanan tidak pernah berhenti bilang kalau Bung Karno itu keren sekali kalau soal arsitektur sampai pemilihan tempat. Sepanjang perjalanan menuju Tampak Siring itu disuguhkan pemandangan yang sangat adem dimata. Sesampainya disana pun, saya tidak berhenti bilang kalau Bung Karno itu keren banget. Terutama ketika sampai di sindangnya (temat pemandian putri-putri kerajaan Bali jaman dulu). Airnya jernih sejernih-jernihnya air. Padahal di bawah sindangnya sendiri ada batu, ada lumutnya juga pasti, ada ikannya malah, dibuat mandi pulak. Tapi jernihnya terjaga banget, mungkin karena itu air di sindang tersebut dipercaya bisa bikin awet muda. Airnya juga boleh diambil dibawa pulang bagi yang ingin, hehe.
Pemandian
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Yang bikin keren adalah ketika melihat istana tampak siring dengan sebuah jembatan yang menghubungkan antara kedua bangunan. Jembatan tersebut bernama jembatan persahabatan, alkisah menurut guide di sana, jembatan persahabatan tersebut itu dibuat Bung Karno untuk mempererat hubungan keluarga beliau. Dahulu, keluarga beliau ‘agak’ renggang dikarenakan kesibukan bung Karno yang luar biasa. Sehingga didesainlah sebuah jembatan yang menjadi penghubung antara ruang utama beliau (ruang kerja beliau) dengan ruang keluarga beliau yang berada disebelahnya. Keren! Selain itu, kerennya adalah ruang kerja beliau didesain sedemikian rupa, manakala beliau lelah dengan rutinitas selama bekerja di ruangan kerjanya, beliau bisa menghadap ke jendela dan melihat pemandangan sindang tempat para putri-putri kerajaan mandi. Brilian! Hahaha. That’s why, sampai meninggalkan Tampak Siring pun saya tidak berhenti bilang kalau Bung Karno itu keren banget!
Khrisna – Pusat Oleh-Oleh Khas Bali
Senja berlalu. Perjalanan kembali menuju Legian (bungalow tempat kami menginap) membutuhkan waktu ±2jam. Setelah puas tidur selama dalam perjalanan. Bangun-bangun harus bingung milih oleh-oleh di pusat oleh-oleh khas Bali – Khrisna. Super gede. Harganya juga miring. Tapi untuk yang mau harga lebih miring lagi lebih baik ke Pasar Sukowati. Kalau di Khrisna walaupun harganya beda dikit sama di pasar Sukowati, kualitas Insya Allah terjamin baik. Pilihan ada di tangan pribadi masing-masing. Kalau saya, Alhamdulillah dapat pengalaman, sebaiknya beli oleh-oleh di pasar Sukowati saha. Hehe. Udah terlanjur beli beberapa di Khrisna, bisa jadi pelajaran.
Pesta Seafood
Kisah menarik disini: saya hanya ingin membuat pengakuan bahwa saya baru pertama kali dalam seumur hidup saya makan kepiting dan ternyata rasanya itu ‘Sesuatu’ banget. Terima Kasih ya Allah. #sekian
Legian
Hiyak, setelah selesai kenyang makan. Malam menjelang. Sekitar pukul 10 malam. Setelah beberes sebentar menaruh barang-barang. Jadilah kami (minus dospem) melanglang sepanjang jalan Legian. Legian, the city never sleeps! Kota nocturnal. Super hidup di waktu malam. Jam-jam segitu bule-bule dari segala penjuru Bali tumpah ruah di Legian untuk melakukan anggukan universal alias nge-dugem. Sumpah! Jalan pakai jilbab seperti saya dan beberapa teman jadi ‘sesuatu’ banget rasanya. Berbeda dengan bule-bule, makin malam makin seksi, makin cantik, dengan satu buah bir Heineken di tangan, jalan bergerombol menuju legian. Luar biasa, malam di Legian! Apakah ini yang menjadi alas an Imam Samudra ngebom Legian Oktober 2002? Entahlah. Tapi saya sebagai muslim sejujurnya sedih, tapi mau gimana lagi. Hehe. Insya Allah mereka orang-orang baik, sumber penghidupan warga Legian juga, simbosis mutualisme. Mudah-mudahan… aamiin.
Salah Satu Pemandangan Malam di Sebuah Cafe di Legian
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sabtu, 17 September 2011
Bravo Alva Lima India (Part 1)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala Puji Bagi Allah. Akhirnya, bisa juga menyempatkan waktu untuk berbagi cerita lagi dalam gitacintanyawilis. Rasanya sudah lama sekali tidak menulis di blog ini, padahal banyak cerita yang bisa tertuang, sampah yang bisa terbuang, dan hati yang (mungkin) bisa tertambat. Teruntuk kali ini, sepertinya yang paling tepat adalah menuangkan cerita seputar perjalanan empat hari tiga malam (6-9 September) di Bali. Insya Allah, banyak pelajaran dan hal-hal menarik yang bisa diambil dari cerita ini.
Adapun menjadikan Bali sebagai tempat penelitian bukanlah tanpa alasan. Bali dipilih sebagai site penelitian, dikarenakan beberapa site di Bali sangat cocok untuk mendukung analisis data penelitian, walaupun tak semua peneliti bisa melakukan penelitian di Bali. Site penelitian tersebut diantaranya di daerah Bangli, dimana Kabupaten tersebut merupakan ‘hutannya Bali’. Bangli menjadi satu-satunya di Bali yang bisa dibilang ‘tidak diperbolehkan’ untuk mengalihfungsikan daerahnya sebagai sentrawisata seperti daerah-daerah lain misal Kabupaten Badung yang pendapatan terbesarnya berasal dari objek wisata, Pura Uluwatu, ungkap Pak Made, driver tersabar yang setia menemani perjalanan selama Kami di Bali. Dalam hal ini, Bangli sangat terkenal sebagai kota agropolitan dimana produk utamanya antara lain Sapi Bali dan Kopi Bali.
Pada dasarnya, penelitian di Bali selain dalam rangka memenuhi data yang dibutuhkan, juga merupakan ajang bagi peneliti untuk lebih solid lagi, mengingat jangka waktu penelitian yang panjang hingga Desember tahun ini. Perjalanan ke Bali kali ini boleh dibilang sangat terfasilitasi dengan baik, dari mulai transportasi, akomodasi, konsumsi, mengingat dana penelitian dalam rangka perjalanan ini sudah sesuai dengan RKAT, Insya Allah tepat sasaran. Karena untuk ke tempat-tempat wisata, menjadi tanggungan pribadi masing-masing peneliti.
Tak perlu berpanjang kata soal penelitian, sebaiknya mari bercerita saja soal perjalanan selama di sana. Karena proporsi terbesar perjalanan di Bali memang untuk jalan-jalan: 20% untuk penelitian, 80% untuk jalan-jalan. Hahahaha. Semuanya sesuai dengan prosedur perjalanan yang telah disusun langsung oleh Ketua Tim. Sebagai anggota penelitian, selama data-data sudah terpenuhi, setelahnya terserah kemana driver mengantar.
Day 1
Makan Siang (lupa nama Restorannya – Insya Allah HALAL)
Perjalanan di Bali berlangsung selama empat hari tiga malam. Berangkat menggunakan pesawat pagi hari, kami sampai di Bali siang hari, mengingat adanya perbedaaan waktu, di mana waktu Bali lebih cepat satu jam dari waktu di Jakarta. Sesampainya di Bali dan telah dijemput driver, Kami langsung menuju tempat makan untuk makan siang. Pertama kali masuk ke restoran, saya pikir akan “Bali” banget suasananya. Ternyata eh ternyata, disambut dengan lagu Sunda, sesuatu banget deh. Alhamdulillah yah, udah di Bali, tapi masih berasa di Mang Kabayan Margonda - Depok. Benar-benar sesuatu banget, padahal tempatnya udah nuansa ‘Bali’ banget, kali ini musik tak pernah berbohong, hati saya masih di Depok (masih jetlag maksudnya). Hahaha. Selesai makan masakan yang juga khas Sunda banget, perjalanan dilanjutkan menuju ke selatan Bali, dan destinasi pertama kami adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK).
Garuda Wisnu Kencana (GWK)
Garuda Wisnu Kencana
Foto: Dokumentasi Pribadi
Garuda Wisnu Kencana merupakan salah satu objek wisata yang bikin takjub juga. Ada aja orang iseng bikin patung mau ngalahin patung Liberty. Hahaha. Luar biasa, pematungnya! Berada diketinggian (entahlah berapa), lokasi patung GWK ini merupakan lokasi tertinggi yang ada di Provinsi Bali. Tak heran, walau matahari tengah terik-teriknya, di kawasan ini, wisatawan tidak perlu takut kegerahan karena angin yang berhembus sangat sejuk. Tiket masuk untuk menuju tempat ini sebesar Rp. 25.000 untuk dewasa, dan untuk pelajar sebesar Rp. 20.000. Dengan harapan besar dapat harga pelajar, Kami sudah siap dengan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Ternyata eh ternyata, mahasiswa masuk itungan dewasa. Hahaha. Padahal udah ngarep banget masuk kategori pelajar. Hahaha.
Sesampainya di lokasi ini, yang ada dibenak saya hanya terpikir, bagaimana ini patung yang tingginya dua kali tinggi rumah saya dibawa dari Bandung. Mengingat pematungnya berasal dari Bandung, dan proses pembuatannya pun dilakukan di Bandung. Ish…kerenlah pokoknya. Subhanalloh. Walaupun konstruksi patung GWK ini belum selesai, dimana antara patung Dewa Wisnu, patung Garuda, serta tangan Dewa Wisnu letaknya masih terpisah-pisah, tapi patung GWK ini sudah dapat dipastikan sangat amat megah sekali, dan seperti perkiraan akan melebihi tinggi patung Liberty. Mungkin kalau benar adanya seperti itu, Pulau Jawa dan Pulau Lombok bisa terlihat dari patung GWK. Luar biasa!

Selain patungnya yang keren, wisatawan di lokasi ini juga disuguhkan dengan pemandangan gunung kapur yang di ‘papras’ (gak tahu bahasa yang lebih enak dari ini apa) Intinya, gunung kapurnya dibentuk sedemikian rupa, jadinya seperti di kelilingi apa gitu kalau berdiri di lokasi. Selain itu, di lokasi ini juga ada mata air yang dipercayai suci dan barangsiapa yang meminta doanya supaya cepat terkabul bisa ke mata air tersebut untuk meminumnya. Menurut informasi dari penjaga setempat, mata air ini tidak habis-habis walau musim kemarau berkepanjangan. Bagi yang percaya, mungkin bisa dicoba.
Pantai Dream Land
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Dream Land. Sesampainya di pantai ini, wisatawan akan disuguhkan pemandangan pasir putih yang eksotis lengkap dengan saung-saung tempat pijat, hahaha. Ombak laut yang sangat prima di pantai ini sangat cocok bagi para pecinta surfing. Ombaknya pas mantab! Selain itu, disini wisatawan lokal akan disuguhkan pemandangan bule-bule yang sedang berjemur dengan asyiknya di tengah teriknya matahari kala itu. Pemandangan yang kontras sekali dengan Kami yang kala itu berpakaian tertutup terutama bagi kami yang berjilbab. Hahaha. Mungkin bule-bule disitu keheranan juga kali yah, orang ke pantai pakai baju kok tertutup, padahal lagi panas sepanas-panasnya. *Sambil terus istigfar*

Pura Uluwatu – Kecak Dance
Astagfirullah ternyata berlanjut hingga tempat ini. Kejadian super seru paling saya rasakan pada akhir destinasi hari pertama di Bali yaitu di Uluwatu. Warning! Bagi siapa saja yang mengunjungi tempat ini waspadalah! Waspadalah! Monyet di Uluwatu super banget ganasnya. Naluri untuk nyolongnya gede banget. Jadi, kalau sesampainya disini, sebelum memasuki daerah Uluwatu, sebaiknya barang-barang seperti kacamata, topi, barang-barang yang agak bling-bling harap diselamatkan terlebih dahulu. Selain monyetnya bandel, tampilannya memang sangar sodara-sodara, makmur-makmur banget monyetnya, pintar cari makan mereka. Karena bagi siapapun yang berhasil diambil barangnya sama itu monyet, dijamin barang tidak akan kembali, kecuali pawangnya kasih makan. Intinya harus disogok dulu monyetnya biar mau ngembaliin barang yang diambil. Hehe
Balik lagi ke Uluwatu-nya. Uluwatu benar-benar eksotis. Subhanallah banget. Sesuatu pokoknya. Kalau manusia ada aja yang sombong, coba aja liat eksotisme Uluwatu, harus takjub dan merasa diri lemah atas kebesaran Tuhan. Luar biasa indah! Yang bikin seru dari perjalanan sore menanti sunset di Uluwatu selain melihat sekeliling pura adalah ketika lagi foto-in dosen pembimbing. Resenya adalah dosen pembimbing tau ada monyet ganas lagi ngincer sandal saya, tapi dia diem aja, biar saya fokus ngambil foto dia katanya. Dan jeng jeng jeng. Akhirnya, terjadilah perang antara kaki saya dan monyet, tidak tanggung-tanggung, dua monyet berebutan mau ambil sandal saya. Muka udah kepalang jelek banget, mau nangis, sandal udah dicakar-cakar pake kukunya monyet, hiks. Tapi pada akhirnya, perjuangan saya berhasil, sodara-sodara. Super… Alhamdulillah ya Allah. Sesuatu banget, bisa lolos dari dua monyet binal yang mau ambil sandal saya.
Kalau mengingat perjuangan saya mempertahankan sandal oke juga ternyata, karena mba-mba di depan saya sendalnya abis digerogotin (dirusak) sama monyet pasca berhasil direbut. Yang bikin prihatin adalah tak lama setelah sandal si mba dirusak, monyetnya bahkan ngerampas anting mbanya, sumpah liar banget monyetnya. Kasian mbanya, sudah sandal hilang, anting dirampas pula. Entah karena pertahanan si mba terlalu mudah dipatahkan atau memang monyetnya ngefans sama mbanya. Tapi yang pasti, saya bersyukur sekali bisa mempertahankan sandal, harganya lumayan soalnya, bisa buat makan warteg 7-10 kali.
Lanjut ke perjalanan selama di Uluwatu, kami bersepakat untuk menonton Kecak Dance. Harga tiket untuk menonton tari Kecak ini seharga Rp 70.000,00. Lumayan menguras kantong juga untuk wisatawan domestik, pasalnya harga tersebut tidak dibedakan dengan tarif bagi wisatawan luar negeri. Setelah mendapat tiket, wisatawan akan mendapatkan sinopsis cerita yang akan dibawakan dalam tari Kecak tersebut sesuai dengan bahasa yang digunakan. Kalau sepengamatan saya antara lain ada Bahasa Indonesia, Jepang, Korea, Mandarin, dan Bahasa Inggris. Sinopsis cerita tersebut sangat membantu memahami alur Tari Kecak yang dibawakan.
Tari Kecak baru akan dimulai jam 18.00 WITA, untuk mengisi waktu menunggu dimulainya pagelaran, kami langsung menuju spot pagelaran untuk melihat sunset. Spotnya itu loh, luar biasa kece banget sodara-sodara. Kalau ke tempat ini, wajib banget take-in tempat duduk secepatnya, karena kalau telat dikit pasti sudah penuh dan gak dapat tempat duduk. Di tempat ini bakal berasa banget lho bangganya sama budaya Indonesia. Bule-bule, oppa unni dari korea, bersama wisatawan dai luar negeri lainnya, tumpah ruah duduk menanti sunset+pegelaran Tari Kecak. Eksotis banget!
Akhirul kalam: Sunsetnya keren banget + Tari Kecaknya AWESOME! Speechless. Pulau Dewata, eksotis!


Tari Kecak
Foto: Dokumentasi Pribadi
Cerita perjalanan selama di Bali akan berlanjut! Nantikan part berikutnya. Banyak tempat, banyak cerita. Best Itenerary, terimakasih Ibu Dosen Pembimbing