Tampilkan postingan dengan label Destinasi wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Destinasi wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 September 2012

Sawarna, Cantik!

Wah, rasanya sudah lama sekali yah gw gak menulis di blog ini. Sekarang mumpung lagi ada waktu senggang di kantor, jadi sebaiknya dimanfaatkan untuk kegiatan positif ya salah satunya dengan ngeblog. Gawat soalnya, kalau diwaktu senggang kayak gini (alias lagi gak ada kerjaan) kalau gak pinter-pinter manfaatinnya. Soalnya bisa-bisa gw bakal streaming nonton dramacrazy terus. Ahaha. Ya maklum ajalah, sinyal internetnya lumayan kece dan tidak ada pemblokiran yang berarti disini. Wkwkwkw

Waktu cepet berlalu rasanya. Banyak hal yang keren, indah, mengharukan yang terlewatkan untuk dibagi di blog ini. Terutama Ramadhan kemarin yah. Huhuhu. Terimakasih ya Alloh, udah kasih kesempatan indah itu untuk datang kembali dalam kehidupanku. Lain kali, seterusnya, pertemukan Aku dengan Ramadhan tercinta ya, Dear Alloh. Makasih.. I Love U, Allah J

Ini ngomong-ngomong, lama-lama tulisan gw bener-bener nyampah banget deh basahanya. Rindu banget deh menulis dengan bahasa ilmiah. Gak Cuma curhatan colongan gini. Ya tapi gimana lagi yah, nyari waktunya juga susah banget soalnya. Jadi ya sekenanya aja lah membahas apa yang bisa dibahas dalam kehidupan sehari-hari gw aja.

Oia, minggu kemarin gw abis ke Sawarna. Ihihi. Liburan yang cukup menyenangkan. Alhamdulillah. Setahun persis waktu gw liburan ke Bali. Ya Alhamdulillah masih bisa merasakan liburan yah. Sawarna, sebuah desa dengan keragaman wisatanya sangat cocok bagi para wisatawan yang merindukan kedamaian di tengah hiruk pikuk kota. Letaknya yang berada di Kec.Bayah, Kab. Lebak, Banten Selatan, memang cukup jauh sih. Ya mungkin memakan waktu 7-8 jam perjalanan dari Kota Jakarta.

Selama perjalanan, kita akan disuguhkan dengan jalan-jalan yang mulai dari jalan ancur rusak sampai jalan alus yang berkelok-kelok mengikuti garis pantai. Entah kenapa kontur jalanan tersebut seperti jalanan di Daerah Malimbu, Lombok Barat, pokoknya mirip sepanjang garis pantai di Lombok Barat.

Sesampainya disana, kita bakal disuguhkan dengan hamparan persawahan yang hijau. Sempat bingung sebenarnya, kenapa yah daerah dataran rendah, pinggir pantai yang panas banget banget gitu bisa tumbuh persawahan yang hijau banget gitu. Padahal yah, setau gw waktu gw kesana itu, kondisi di desa sedang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Hampir 7 bulan di desa tersebut tidak turun hujan. Alhasil tanah tandus, bengkah-bengkah, padi-padi mongering, bahkan sampai kekurangan air bersih. Warga di sana bahkan harus menampung air bersih dulu di sumur-sumur umum untuk mendapatkan air bersih. Ah, nampaknya Sawarna memang unik. Perpaduan yang khas antara Pantai dengan hamparan hijaunya persawahan.

Wisata di Desa Sawarna memang berbasis wisata bahari. Jadi memang keunggulan yang bisa disuguhkan oleh Desa ini adalah keindahan pantainya. Pertama kali sampai di pantai Ciantir, Pantai dekat homestay, sejujurnya gw sih agak kecewa yah entah kenapa. Kurang oke kalau menurut gw, terutama pasirnya yah. Gw pikir bakal disuguhkan hamparan pasir putih yang bener-putih. Ah, ternyata masih kalah sama Ujung Genteng, Pantai Pangumbahannya itu luar biasa bagus pasirnya. Ini kita lagi ngomonginnya head to head yah. Maksudnya yang daerah yang kira2 kondisi, letak, dan tipe pantainya hampir mirip. Ya menurut gw bisa lah dibandingin sama Ujung Genteng. Masing-masing memang punya kelebihan dan kekurangannya sendiri sih.

Balik lagi ke Sawarna. Tapi menurut gw pantai Ciantir ini aseli cantik kontur bibir pantainya. Lo bakal bener-bener ngerasain kayak di Kuta Bali versi sepinya. Seriusan mirip banget pola bibir pantai Ciantir. Tipe Ombaknya mungkin lebih tinggi Ciantir dan lebih rawan kalau dibuat surfing macam di Kuta Bali. Ya tapi cukup kecelah.


Kalau mau wisata yang agak adventure gitu, bisa dah tuh maen-maen ke Goa Lalay. Ngeri pertama kali masuk. Licin banget masbro mbaksist lumpur di Goanya, aernya hampir selututut, tapi di beberapa tempat mungkin Cuma sebetis. Disana banyak adek-adek yang meng-guide kok. Sungguh sangat membantu! Yah jadinya harus simbiosis mutualisme juga yah sama adek-adeknya. Indah banget di dalam Goanya. Tapi ya gitu, horror banget tempatnya. Akan berpikir panjang kalau harus balik lagi kesana, serem banget sumpah, gelap. Harus persiapan bawa headlight yah! Atau minimal senterlah. Ada sih yang nyewain, tapi kalau mau hemat budget ya lebih baik bawa sendiri aja.

Nah, kalau mau lihat sunset maen-maen dah tuh ke Tanjung Layar. Aksesnya lumayan jauh dari homestay warga. Tapi sumpah yah, ini keren banget tempatnya.. Iconic banget! Dengan dua buah batu gunung di tengahnya. Super kerennnnnnn! Aseli cakep. Sayang mataharinya ngumpet karena awannya agak mendung. Hemh.

The last, jangan lupa maen ke Laguna Pari (Lagoon Pari). Sejujurnya gw gak sempet kesana, soalnya males. Jalannya jauh, dan takut gak kedapetan subuh karena perjalanannya. Jadi gw milih tidur dan liat sunrise di Pantai Ciantir. Jalannya jauh banget kata temen gw yang kesana, lewat sawah-sawah gitu. Yah gw sih gak terlalu nyesel. Udah high expect duluan, tapi dapetnya gitu, yah standard aja lah. Gak oke soalnya backpacker communitynya. Hufh

Overall, Sawarna lumayanlah buat jadi tempat melepas kepenatan. Tapi kayaknya lebih enak di gunung yah, ahahaha, panas banget soalnya di daerah pantai gitu. Gak tahan panasnya…  Ahahaha

Next post bakalan heboh ala fangirl nih. AAaaaaaa….gw bakal ketemu  adek-adek SHINee. Huhuhu. Udah lama banget gw menahan rindu untuk ketemu adek-adek ini. Hanya bisa mengagumi dari Indonesia, semoga kagumnya sampai ke Korea yah. I Love U, my shining SHINee. See you next week :D


Senin, 31 Januari 2011

Ujung Genteng, Pesona Alam Yang Menawan Hati



Sungguh, tiada daya bagi manusia yang lemah ini untuk berdiri di atas bumi Tuhan tanpa seizin-Nya.

Seringkali berdiri, seringkali duduk, seringkali terjatuh, lalu berdiri kembali, dan seringkali pula tertidur. Dan diantara siklus hidup ini, maka berkali-kali manusia mau tak mau harus bertekuk takluk kepada kebesaran Tuhan, pemilik langit dan bumi beserta seluruh isinya, Maha Menciptakan dengan segala kesempurnaan karya-Nya.


Ujung Genteng menjadi destinasi yang dipilih Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2010 sebagai tempat jalan-jalan akhir tahun (JAT) dalam rangka menutup kebersamaan selama satu tahun kepengurusan. Faktanya, JAT yang menjadi akhir dari kepengurusan ini, tidak akan pernah menjadi akhir cerita perjalanan BEM UI 2010, because We are a Never Ending Story.


Ujung Genteng merupakan daerah pesisir pantai selatan Jawa Barat yang terletak di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi dengan jarak tempuh sekitar 220 kilometer dari Ibu Kota Jakarta atau 230 kilometer dari Kota Bandung. Waktu tempuhnya sekitar enam atau tujuh jam perjalanan bermobil. Selain jalannya cukup mulus juga terdapat beberapa jalur alternatif serta sarana angkutan umum yang memadai menuju tempat tujuan. (www.ujung-genteng.info)


Berangkat dari Depok pukul 03.00 WIB, Kami sampai di Ujung Genteng sekitar pukul 12.00 WIB. Kali ini, cerita akan terpusat pada keelokan wisata di Ujung Genteng. Selama dalam perjalanan menuju Ujung Genteng, para pelancong akan menikmati indahnya pemandangan bukit-bukit yang masih asri dengan pepohonan khas perbukitan. Jalan yang berkelok dan berliku tajam membuat perjalanan tidak pernah membosankan.


Sampai disana, hamparan pantai Ujung Genteng yang indah sudah membuat mata ini terbelalak kagum. Sepanjang mata memandang, Pandai Ujung Genteng menyajikan pemandangan ombak besar dan jernih yang pecah berserak terhalang gugusan karang. Sangat indah, ditambah dengan hamparan pasir putih di pesisirnya.

Sumber: Foto Pribadi

Letak pondokan atau penginapan yang berada persis menghadap ke arah Pantai, benar-benar membuat para pelancong betah dan mudah untuk melakukan berbagai aktivitas di pantai. Namun, bagi para pelancong yang belum puas dengan keindahan pantai Ujung Genteng, bisa memilih Pantai Pangumbahan untuk tujuan selanjutnya selama berada di Ujung Genteng. Sedikit berbeda dengan Pantai Ujung Genteng, Pantai Pangumbahan menyuguhkan ombak besar yang tidak terhalang dengan gugusan karang. Ombak besar tersebut benar-benar bisa membius siapa saja yang hadir berada di Pantai Pangumbahan. Oleh karena itu, para pelancong sebaiknya berhati-hati dan waspada apabila bermain-main dengan ombak besar.

Senja di Pantai Pangumbahan

Sumber: Foto Pribadi

Pantai Pangumbahan yang berpasir lebih putih, bersih, dan halus dibanding Pantai Ujung Genteng membuat pantai ini menjadi tempat yang pas bagi Penyu untuk bertelur. Di wilayah Pantai Pangumbahan ini, terdapat tempat konservasi Penyu Hijau (Chelonia Mydas). Di tempat ini, para pelancong bisa turut serta melepas penyu ke Pantai. Bagi yang ingin melihat penyu bertelur, harus sedikit bersabar karena Penyu biasanya baru naik ke Pantai untuk bertelur sekitar pukul 22.00 malam. Dalam sekali bertelur, Penyu bisa menghasilkan sampai 70 telur.


Objek wisata lain yang harus dikunjungi oleh para pelancong adalah Curug Cikaso. Curug Cikaso merupakan Air Terjun yang sangat indah karena air dari curug ini khas berwarna hijau kebiruan bersih yang merupakan pantulan dari bebukitan hijau yang berada di sekitar Curug Cikaso. Sungai yang mengalir juga menyajikan pemandangan yang rupawan, hampir mirip seperti Green Canyon.

Curug Cikaso

Sumber: Foto Pribadi

Masih banyak objek wisata lain yang bisa dikunjungi di Ujung Genteng. Namun, karena terbatasnya waktu wisata, wisata di Ujung Genteng harus diakhiri dalam waktu dua hari saja. Jarak yang cukup jauh dan transportasi yang agak sulit membuat perjalanan wisata ke Ujung Genteng harus terencana dengan baik. Sebaiknya para pelancong menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan bagi para backpacker selama di Ujung Genteng agar memudahkan perjalanan wisatanya di Ujung Genteng.